Tim SIMPLEX yang beranggotakan 2 orang mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM, Nasywa Zahra Shafira Ardell (TI 2023) dan Kinar Zabarjad (TI 2023), meraih Juara 3 dalam ajang Mathematical Modelling Competition (MMC) Mathematical Challenge Festival ITB 2026. Dalam lomba tingkat nasional yang diadakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, SIMPLEX diharuskan mengerjakan brief berupa pengembangan model matematis untuk perencanaan strategis pembangkit listrik tenaga surya (PV) jangka panjang (30–50 tahun ke depan) di bawah ketidakpastian.
Dari brief yang diberikan, SIMPLEX menelurkan karya model rekomendasi investasi kapasitas PV dan BESS yang optimal untuk 22 wilayah sistem kelistrikan di Indonesia periode 2026-2066. ”Untuk mengakomodasi ketidakpastian skenario di masa depan, model kami dibangun menggunakan pendekatan two-stage stochastic programming two-objective yang diselesaikan via metode epsilon-constraint. Dari pemodelan yang cukup kompleks tersebut, kami menghasilkan sebuah kurva Pareto frontier untuk memetakan trade-off terbaik antara minimasi biaya sistem dan minimasi emisi karbon,” tutur Kinar. Kinar melanjutkan bahwa temuan kunci dari model yang mereka bangun adalah satu titik keseimbangan yang ideal dengan sistem bisa memangkas emisi hingga 65,9% dan tambahan biaya operasional hanya 33%. Berangkat dari temuan itu, strategi Fast_PV (prioritas solar terdistribusi) sangat direkomendasikan ke pemangku kebijakan karena terbukti paling tangguh secara ekonomi dalam menghadapi berbagai skenario masa depan.
Karya Tim SIMPLEX berhasil melalui tahap penyisihan (mengumpulkan laporan) dan final (presentasi & pameran infografis), serta diputuskan untuk menjadi juara 3 di tahap final pada 2-3 Mei 2026 oleh dewan juri beranggotakan Prof. Dr. Nuning Nuraini, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Janson Naiborhu, S.Si., M.Si., dan Dr. Ikha Magdalena, S.Si., M.Si dari FMIPA ITB. Ardell menyatakan bahwa tantangan pengerjaan brief lomba ini dominan datang dari time management dari tim yang masih harus diperbaiki. ”Dari sini kami jadi sadar dan belajar, harusnya dari awal kami menerapkan forward scheduling bukan backward scheduling dan membuat deadline bayangan supaya ada waktu untuk cek ulang pekerjaan lagi dan tidak terburu-buru,” tutur Ardell. Perbedaan Prodi Kinar dan Ardell dengan kompetitor dan juri yang mayoritas berasal dari latar belakang Prodi Matematika juga menjadi tantangan tersendiri bagi Tim SIMPLEX. ”Apalagi ini juga pertama kalinya kami coba ikut lomba Mathematical Modelling, jadi awalnya bingung harus mulai dari mana,” tambah Kinar.
Mengikuti lomba dengan brief yang berbeda dari topik-topik yang sering ditemui di perkuliahan memberikan sebuah pengalaman berharga bagi Tim SIMPLEX. ”When people say industrial engineer bisa masuk ke mana saja, ternyata memang benar, if they’re willing enough,” tutur Ardell. Hal serupa juga dituturkan oleh Kinar bahwa pengalaman merasakan sisi ”gado-gado” dari Teknik Industri diperoleh selama mengikuti lomba ini dan membuktikan bahwa mahasiswa Teknik Industri bisa mengikuti lomba dari berbagai macam bidang. ”Lomba ini benar-benar living proof dari quote ‘A jack of all trades is a master of none, but oftentimes better than a master of one‘,” tuturnya. Melalui lomba ini, Tim SIMPLEX juga mengajak mahasiswa untuk tidak takut mencoba hal-hal baru, dengan tetap memberikan usaha terbaik dan menaruh semua harapan dan usaha ke dalam doa.
Kontributor: Kinar Zabarjad (TI 2023)
