Dalam semangat kolaborasi antar perguruan tinggi, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM menerima kunjungan dari Program Studi (Prodi) Rekayasa Mesin, Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta pada Kamis (07/05). Agenda yang dibawa oleh STTKD dalam kunjungan ini adalah diskusi dalam rangka pembentukan kurikulum di Prodi Rekayasa Mesin.
Memimpin kunjungan, Ketua Program Studi (Kaprodi) Rekayasa Mesin, Sehono, S.Pd., M.T., menyampaikan bahwa dalam membentuk kurikulum, tim dituntut untuk merumuskan kurikulum yang tidak hanya kuat dalam teori, namun juga adaptif terhadap teknologi. ”Sebagai institusi kedirgantaraan, kolaborasi dengan dan masukan dari akademisi DTMI UGM merupakan langkah strategis untuk dapat mencapai standar mutu yang baik,” tuturnya. Sebagai gambaran proses penyusunan kurikulum, Dyan Herjuna, S.ST., M.Han., dosen Rekayasa Mesin STTKD, memberikan presentasi mengenai mata kuliah di prodi tersebut dari semester 1 sampai semester 8. Dyan juga menyampaikan bahwa tim akreditasi yang mengunjungi dan memberikan asesmen di STTKD merekomendasikan penguatan di beberapa mata kuliah basic science. Sebagai tugas akhir, Dyan memaparkan mahasiswa Prodi Rekayasa Mesin STTKD membuat project sesuai konsentrasi masing-masing. ”Project yang dikerjakan mahasiswa sebagai tugas akhir akan tetap menekankan kemampuan analisis layaknya skripsi,” papar Dyan. Dalam diskusi penyusunan kurikulum ini, materi banyak menekankan pada sinkronisasi capaian pembelajaran untuk menguatkan materi di Prodi Rekayasa Mesin. ”Penyusunan materi nanti juga harus relevan dengan kebutuhan industri dan akreditasi nasional,” tambah Sehono. Presentasi dilanjutkan oleh dosen Teknik Mesin UGM sekaligus Ketua Tim Jaminan Mutu Prodi Teknik Mesin UGM, Dr. Hifni Mukhtar Ariyadi, S.T., M.Sc. dengan isi paparan berfokus pada kurikulum Teknik Mesin UGM, penyusunan kurikulum pendidikan berbasis capaian pembelajaran (Outcome Based Education/OBE), dan analisis kebutuhan dari lulusan Prodi Teknik Mesin.
Diskusi kolaborasi antara DTMI UGM dengan STTKD menunjukkan bahwa dalam proses akademik, perguruan tinggi memerlukan adanya kolaborasi dalam menentukan arah pendidikan. Dengan kolaborasi, masing-masing perguruan tinggi akan saling melengkapi dan terus belajar untuk dapat memberikan pendidikan terbaik bagi mahasiswanya.
