Bersaing dengan Peserta dari Asia hingga Afrika, Mahasiswa DTMI FT UGM Raih Bronze Medal International Paper Competition 2026 melalui Inovasi “CARBOLIGHT Sustainable Aviation Fuel”

Tim mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) yang tergabung dalam Tim Carbolight berhasil meraih Bronze Medal pada ajang International Paper Competition melalui karya tulis bertajuk “CARBOLIGHT Sustainable Aviation Fuel”. Kompetisi ilmiah tingkat internasional tersebut diselenggarakan oleh Universiti Putra Malaysia bekerja sama dengan International Student Competition dan berlangsung pada 13–16 Februari 2026 di Alamis City Hotel, Malaysia.

Kompetisi ini menjadi forum akademik internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk mempresentasikan gagasan inovatif dalam menjawab tantangan global di bidang energi berkelanjutan dan teknologi masa depan. Pada pelaksanaannya, Tim Carbolight bersaing dengan peserta dari berbagai universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Indonesia, dan Institut Teknologi Bandung, serta peserta internasional yang berasal dari Malaysia, Thailand, Filipina, Jepang, Nigeria, Kenya, dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Keberagaman latar belakang akademik dan geografis peserta menjadikan kompetisi ini sebagai ruang pertukaran ilmu yang kompetitif sekaligus kolaboratif dalam skala global.

Tim Carbolight terdiri atas Arief Putra Pratama dan Naufal Fabianito Assariy dari Program Studi S1 Teknik Mesin, serta Muhamad Daffa Raditya Widyadana, Reva Arma Jala Antariksa, dan Nugroho Ibrahim dari Program Studi S1 Teknik Kimia. Selama proses penyusunan karya ilmiah, tim mendapatkan bimbingan dari Dr.-Ing. Ir. Teguh Ariyanto, ST, M.Eng., IPM, ASEAN Eng. Sinergi lintas disiplin antara bidang teknik mesin dan teknik kimia menjadi landasan utama dalam merancang solusi energi yang komprehensif, mulai dari aspek rekayasa proses hingga analisis keberlanjutan sistem energi.

Melalui karya yang diusung, tim mengangkat isu strategis mengenai kebutuhan bahan bakar ramah lingkungan di sektor penerbangan global. Industri aviasi saat ini menghadapi tantangan besar dalam menurunkan emisi karbon karena tingginya ketergantungan pada bahan bakar fosil serta keterbatasan alternatif energi yang memiliki densitas energi setara dengan avtur konvensional. Dalam konteks tersebut, Sustainable Aviation Fuel (SAF) dipandang sebagai salah satu solusi paling realistis dalam jangka menengah hingga panjang karena dapat digunakan pada infrastruktur dan mesin pesawat yang sudah ada tanpa memerlukan perubahan teknologi secara signifikan.

SAF merupakan bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber berkelanjutan dengan jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Penggunaan SAF secara global dinilai krusial untuk mendukung target dekarbonisasi industri aviasi internasional serta pencapaian komitmen pengurangan emisi karbon yang ditetapkan berbagai negara dan organisasi penerbangan dunia. Oleh karena itu, pengembangan teknologi produksi SAF yang efisien, ekonomis, dan berbasis sumber daya lokal menjadi agenda penting dalam transisi energi sektor transportasi udara.

Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Carbolight mengembangkan konsep CARBOLIGHT System, yaitu inovasi integrasi teknologi berbasis ekonomi sirkular yang mengonversi emisi karbon industri (CO₂) dan limbah biomassa pertanian menjadi Sustainable Aviation Fuel. Sistem ini dirancang sebagai rantai proses terintegrasi yang menggabungkan teknologi carbon capture, gasifikasi biomassa melalui metode Supercritical Water Gasification, reaksi Reverse Water Gas Shift (RWGS), serta sintesis bahan bakar menggunakan metode Fischer–Tropsch.

Tahapan pengembangan inovasi diawali dengan identifikasi potensi sumber karbon dan biomassa yang tersedia secara berkelanjutan. Emisi karbon dari sektor industri terlebih dahulu ditangkap untuk mencegah pelepasan langsung ke atmosfer, kemudian dikombinasikan dengan gas hasil konversi biomassa. Melalui rangkaian proses kimia dan termal tersebut, gas sintesis yang dihasilkan diolah menjadi hidrokarbon cair yang memiliki karakteristik mendekati bahan bakar penerbangan konvensional.

Keunggulan utama CARBOLIGHT terletak pada pendekatan sistemik yang menghubungkan tiga sektor strategis sekaligus, yaitu industri penghasil emisi karbon, sektor pertanian sebagai penyedia biomassa, serta industri aviasi sebagai pengguna energi bersih. Pendekatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pemanfaatan limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, inovasi yang ditawarkan memiliki nilai tambah dari sisi lingkungan, energi, maupun sosial ekonomi.

Selain aspek teknis, tim juga mempertimbangkan dimensi keberlanjutan yang lebih luas, termasuk potensi dampak lingkungan, peluang pengembangan industri hijau, serta kontribusi terhadap ketahanan energi nasional. Analisis konseptual menunjukkan bahwa sistem produksi SAF berbasis integrasi karbon dan biomassa berpotensi menjadi solusi dekarbonisasi yang relevan bagi negara berkembang dengan sumber daya biomassa melimpah seperti Indonesia.

Partisipasi dalam kompetisi internasional ini memberikan pengalaman akademik yang berharga bagi tim, khususnya dalam menguji gagasan ilmiah melalui perspektif global serta berdiskusi dengan peserta dari berbagai latar belakang keilmuan dan negara. Proses tersebut memperkuat pemahaman bahwa pengembangan teknologi energi masa depan memerlukan kolaborasi multidisiplin serta pendekatan inovatif yang adaptif terhadap tantangan global.

Pencapaian Bronze Medal ini menjadi motivasi bagi Tim Carbolight untuk terus mengembangkan inovasi yang telah dirancang agar dapat melangkah dari tahap konseptual menuju penelitian lanjutan dan implementasi nyata di sektor industri dan energi nasional. Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan mitra industri, sistem CARBOLIGHT diharapkan mampu menjadi salah satu solusi strategis dalam mendukung percepatan pemanfaatan Sustainable Aviation Fuel di Indonesia.

Lebih lanjut, tim berharap capaian ini dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam menjawab tantangan global, khususnya pada isu transisi energi dan pembangunan berkelanjutan. Ke depan, inovasi CARBOLIGHT diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian target Net Zero Emission, memperkuat kemandirian energi nasional, serta memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat melalui pemanfaatan limbah biomassa secara berkelanjutan.

Kontributor: Naufal Fabianito Assariy (Teknik Mesin 2022)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses