Kembali menyelenggarakan kuliah umum, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM mengangkat tajuk ”Technology Foresight and Sustainable Industrialization”. Pada kuliah umum yang diselenggarakan pada Rabu (21/10) ini, DTMI mengundang Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manfaktur Berkelanjutan BRIN, Ir. Nugroho Adi Sasongko, Ph.D. sebagai narasumber. Dr. Nugroho berbagi kepada mahasiswa Sarjana, Magister, dan Doktor DTMI mengenai kondisi industri Indonesia saat ini dan tinjauan ke depan, terutama terkait industrialisasi berkelanjutan.
Dalam paparannya, Dr. Nugroho menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu kala telah memiliki kemahiran dalam bidang keinsinyuran dan sains. ”Sejak lama, berdasarkan peninggalan-peninggalan yang ada, kita sebenarnya terbukti memiliki keterampilan dalam bidang teknik, pengobatan, dan lain-lain. Meski demikian, kondisi industri di Indonesia saat ini masih perlu untuk dikembangkan lagi,” paparnya. Kondisi tersebut dapat diamati, menurut Dr. Nugroho, pada luaran akhir dari riset-riset di Indonesia yang kebanyakan belum dapat dikomersialisasikan dan berakhir hanya berupa paper atau jurnal riset. Situasi ini sangat berbeda dengan Korea Selatan yang sudah sejak lama mematenkan dan melakukan komersialisasi hasil riset dari negaranya, bahkan untuk riset-riset yang di lakukan di luar Korea.
Berbanding terbalik dengan Korea Selatan, Dr. Nugroho memberi contoh, gap antara Indonesia dan negara lain masih cukup besar. ”Rating dari global innovation index Indonesia sebenarnya mengalami kenaikan, namun jumlah penelitian yang memiliki paten mengalami penurunan, salah satunya karena biaya pengajuan paten yang mahal,” tuturnya. Rendahnya angka paten ini sangat berpengaruh kepada angka ekspor teknologi dari Indonesia, sehingga dukungan dari pemerintah Indonesia sangat dibutuhkan, terutama pada tingkat kebijakan.
Dalam rangka menjelang tantangan industri di masa depan, Dr. Nugroho menyampaikan bahwa ada 3 jenis tingkat kesiapan yang harus ditingkatkan, yaitu Technology Readiness Level/ Tingkat Kesiapan Teknologi (TRL), Manufacturing Readiness Level/Tingkat Kesiapan Manufaktur (MRL), dan Commercial Readiness Level/Tingkat Kesiapan Komersial (CRL). Guna meningkatkan 3 jenis kesiapan tadi, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain (A) alih teknologi sekaligus pembangunan kapabilitas pemasok dan SDM lokal, (B) lisensi berbasis kebutuhan industri dengan melibatkan calon pelanggan sejak fase pilot, (C) standarisasi laboratorium uji, data LCA/LCI, MRV, dan kualifikasi mendukung kesiapan industri serta pasar, dan (D) adaptasi digital twin dan AI terapan sebagai simulasi untuk mengurangi iterasi prototipe dan mempercepat kesiapan lini produksi. ”Harapan kita adalah Indonesia bisa menjadi negara maju dengan pertumbuhan ekonomi 6%,” tutur Dr. Nugroho. Kaitannya dengan industri berkelanjutan, Dr. Nugroho menekankan bahwa industri hayati harus dijaga dan dilestarikan agar dapat dikelola secara mandiri. Hal ini diperkuat oleh Prof. Alva Edy Tontowi sebagai moderator yang menyatakan bahwa sustainable industry dan pencapaian ekonomi harus berdampingan. ”Kita mengharapkan peningkatan industri kita dengan tetap menjaga aspek-aspek lingkungan,” tuturnya.
