DTMI UGM dan BRIN Perkuat Kolaborasi Energi Bersih melalui Riset Mikroreaktor Nuklir

Semangat kolaborasi riset Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM diwujudkan dalam pertemuan pembahasan potensi kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pertemuan yang diadakan pada Selasa (12/05) di Ruang Sidang A-1 ini membahas mengenai potensi kerja sama atau kolaborasi riset antara BRIN dan DTMI terkait dengan pengembangan mikroreaktor nuklir. Ir. Muslim Mahardika, Ph.D. selaku Ketua DTMI menyambut baik kehadiran para akademisi dan peneliti dari BRIN. ”Kami mengucapkan terima kasih atas kedatangannya. BRIN dan DTMI sudah lama menjalin kerja sama, sehingga semoga ke depannya kerja sama penelitian ini akan semakin intens,” tuturnya. Sebagai balasan sambutan DTMI, Prof. Mulya Juarsa sebagai peneliti utama dari Research Centre for Nuclear Reactor Technology, Research Organization for Nuclear Energy (Pusat Riset Teknologi Nuklir, Organisasi Riset Tenaga Nuklir) BRIN mengamini bahwa kerja sama antara DTMI dan BRIN sudah terjalin melalui penelitian dan pendidikan. ”Kerja sama dengan DTMI, terutama dengan Prof. Deendarlianto sudah berjalan lama dan anggota BRIN juga ada yang kuliah di DTMI,” tuturnya.

Prof. Mulya menyatakan bahwa saat ini BRIN sedang mengembangkan mikroreaktor nuklir di area pedalaman yang akan digunakan sebagai pengganti diesel sebagai sumber energi. ”Kompetisi yang ada tergolong masih dapat kami tangani, dan saat ini proses pengembangannya telah ada di tahap asesmen proposal,” tuturnya. Ketua Kelompok Riset Keamanan dan Safeguard Reaktor Nuklir BRIN, Dr. Dany Mulyana, memaparkan bahwa mikroreaktor high-temperature gas-cooled reactor (HTGR) akan digunakan sebagai sumber energi dari Pembangkit Listrik dan Uap panas Industri (PeLUIt). ”Selain LPDP, pembiayaan dari pengembangan juga berasal dari industri milik negara,” tuturnya. Salah satu potensi kerja sama dengan DTMI, menurut Dr. Dany, ada di penyusunan front end engineering design dan laporan analisis kecelakaan yang saat ini masih bersifat simulasi. Dr. Nuri Trianti yang juga salah satu peneliti di instansi yang sama menyampaikan bahwa proses penelitian dari pengembangan mikroreaktor ini dibagi ke dalam beberapa kelompok riset yang akan mengerjakan beberapa penelitian yang bersifat spesifik untuk dapat memberikan hasil yang lebih optimal. ”Harapannya reaktor ini nanti tidak akan hanya bermanfaat dalam menghasilkan listrik namun juga hidrogen,” tuturnya.

Meski saat ini pengembangan masih melibatkan proses pembelajaran para peneliti ke Tiongkok, dengan beberapa unsur regulasi dan kerahasiaan dari pemerintah Tiongkok, maka BRIN berharap nantinya kerja sama dengan UGM menjadi cikal bakal kemandirian teknologi. ”Solusi nuklir dalam negeri adalah berdikari,” tutur Dr. Dany.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses