Bagi tim BIPO-SENSE Universitas Gadjah Mada, membuat teknologi kesehatan mental bukan hanya soal memasang sensor atau melatih model kecerdasan buatan. Yang dirancang adalah sebuah sistem: bagaimana perangkat nyaman dipakai, bagaimana data mengalir, bagaimana fitur dipahami pengguna, bagaimana kualitas diuji, dan bagaimana seluruh proses tetap aman serta tidak melampaui batas sebagai alat bantu non-diagnostik.
BIPO-SENSE dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 oleh Edi Mustofa Yulianto (Teknik Industri 2023) sebagai ketua tim bersama Adzira Gadis Salsabillah, Elyne Kusuma Mahardika, Ihsannabigh Mayka Iskandar, dan Ja’far Shodiq Hibatullah, dengan pendampingan Prof. Dr. Eng. Ir. Herianto, S.T., M.Eng., IPU., ASEAN Eng. Kolaborasi ini mempertemukan Teknik Industri, Psikologi, Elektronika dan Instrumentasi, Teknik Elektro, dan Teknologi Informasi.
Teknik Industri dari Desain sampai Pengujian
Peran Teknik Industri terlihat sejak tahap desain. Casing gelang BIPO-SENSE terlebih dahulu dimodelkan menggunakan CAD, kemudian direalisasikan melalui 3D printing agar bentuknya dapat diuji dan disempurnakan secara iteratif. Bagian bawah casing dibuat melengkung mengikuti kontur pergelangan supaya badan perangkat lebih menyatu dengan lengan. Posisi strap, kontak dengan kulit, ketebalan badan, dan kenyamanan ketika tangan bergerak ikut dipertimbangkan. Pendekatan ini selaras dengan area Product Design & Development, Design and Manufacturing Engineering, serta Ergonomics & Human Factors dalam Industrial and Systems Engineering Body of Knowledge (ISEBoK) dari IISE.
Setelah fabrikasi, komponen tidak langsung dianggap selesai. Gelang, aplikasi, unit pencahayaan, serta fungsi pendukung diuji secara modular sebelum diintegrasikan sebagai satu ekosistem. Di sinilah Systems Design & Engineering berperan: setiap bagian harus dapat berinteraksi tanpa kehilangan tujuan utamanya bagi pengguna. Sementara itu, Information Engineering terlihat pada cara data sensor dikelola menjadi informasi yang dapat diproses sistem, dan Quality & Reliability Engineering terlihat pada proses pengujian bertahap untuk menilai konsistensi fungsi dan ketahanan sistem. “Sebagai mahasiswa Teknik Industri, saya melihat BIPO-SENSE bukan sekadar gelang dengan sensor. Kami merancang sistem: bentuk casing harus nyaman, data harus mengalir dengan baik, fitur harus mudah dipahami, dan hasil pengujian harus bisa menjadi dasar keputusan desain berikutnya. Itu yang membuat pendekatan Teknik Industri sangat terasa di proyek ini,” tutur Edi.
Hasil Pengujian: Tidak Hanya ‘Bisa Menyala’
Prototipe fungsional BIPO-SENSE telah mencapai 100%. Pengujian relawan dilakukan setelah memperoleh persetujuan etik dan difokuskan pada kelayakan penggunaan, fungsi teknis, kenyamanan, serta keselamatan dasar. Pada rangkaian ini, fungsi inti, pembacaan sensor, penyelesaian tugas, dan fungsi STOP dapat dijalankan sesuai skenario. Rata-rata skor System Usability Scale (SUS) mencapai 71,875 dari 100 dalam kategori Good, sedangkan kenyamanan sensor rata-rata 3,93 dari 5 dalam kategori Netral-Nyaman. Hasil usability juga menunjukkan bahwa aktivitas tangan seperti mengetik menjadi salah satu konteks yang perlu diperhatikan dalam pengembangan ergonomi generasi berikutnya.
Dari perangkat aktual, tim memperoleh 55.377 pembacaan sensor inti. Data tersebut tidak digunakan sebagai label klinis bipolar, melainkan sebagai data rekayasa untuk mengevaluasi perangkat dan memperkaya pengembangan model. Pada jalur AI, model klasifikasi aktivitas awal mencatat akurasi 91,65% pada set uji terkunci. Setelah penyempurnaan dengan tambahan data perangkat aktual yang kompatibel, performanya meningkat menjadi 96,20% pada set uji yang sama. Angka 96,20% ini adalah akurasi klasifikasi aktivitas, bukan akurasi diagnosis bipolar.
Tim juga melakukan phantom testing, yaitu pengujian rekayasa menggunakan data simulasi terkontrol yang sengaja diberi gangguan seperti noise, spike, drift, missing packet, motion artifact, hingga skenario campuran. Dari 50.000 sampel yang diuji, kesesuaian expected-predicted mencapai 96,24% dengan latensi rata-rata 17,10 milidetik. Hasil ini digunakan untuk melihat robustness jalur pemrosesan terhadap gangguan, bukan untuk menyatakan efektivitas klinis atau keberhasilan terapi.
Bukti untuk Perbaikan Sistem, Bukan Sekadar Angka
Bagi tim, angka-angka tersebut penting karena menjawab pertanyaan yang berbeda. SUS berbicara tentang kemudahan penggunaan, skor kenyamanan berbicara tentang pengalaman memakai perangkat, akurasi 96,20% berbicara tentang kemampuan model mengenali aktivitas, sedangkan 96,24% pada phantom testing berbicara tentang ketahanan jalur pemrosesan pada kondisi simulasi. Membedakan makna setiap metrik menjadi bagian penting dari Quality & Reliability Engineering dan Safety, sekaligus mencegah hasil teknis disalahartikan sebagai klaim klinis.
Cara kerja tersebut juga menunjukkan relevansi Engineering Management. Tim harus menyatukan kebutuhan pengguna, keputusan desain, fabrikasi, pengembangan perangkat lunak, pengujian, etik, risiko, hingga koordinasi lintas disiplin. BIPO-SENSE menjadi contoh bahwa Teknik Industri tidak hanya hadir di lantai produksi, tetapi juga pada persoalan kesehatan digital ketika manusia, teknologi, data, dan keputusan harus bekerja sebagai satu sistem.
Selaras dengan SDGs
Arah BIPO-SENSE selaras dengan SDG 3 tentang Good Health and Well-Being karena membawa pendekatan preventif pada isu kesehatan mental, SDG 9 tentang Industry, Innovation and Infrastructure melalui pengembangan dan pengujian prototipe teknologi, serta SDG 17 tentang Partnerships for the Goals melalui kolaborasi lintas disiplin. Keterkaitan ini diposisikan sebagai keselarasan arah pengembangan, bukan klaim bahwa satu prototipe telah menyelesaikan target SDGs. “Buat saya, keberhasilan inovasi bukan ketika semua komponen sudah terpasang. Kami harus bisa menjelaskan mengapa bentuknya seperti itu, apakah nyaman digunakan, apakah datanya dapat dipercaya, apa risiko penggunaannya, dan apa bukti dari pengujiannya. Itulah cara berpikir Teknik Industri yang kami bawa ke BIPO-SENSE,” tutur Edi
Saat ini tim melanjutkan dokumentasi, diseminasi, dan proses perlindungan kekayaan intelektual. Karena sebagian aspek teknologi sedang dalam proses pengajuan paten, publikasi BIPO-SENSE difokuskan pada tujuan, pendekatan rekayasa, dan hasil evaluasi tingkat tinggi. Rincian parameter, logika keputusan, konfigurasi teknis, skematik, serta mekanisme internal yang dapat membuka substansi invensi tidak dipublikasikan.
BIPO-SENSE — sensing early, supporting better.
With Heart so True, Standing Strong and Caring for You
