Tim Felyhart Universitas Gadjah Mada melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) berinovasi mengubah limbah ampas tebu menjadi produk pasir kucing yang mampu berubah warna tingkat pH. Inovasi ini dirancang untuk membantu pemantauan awal perubahan pH urine kucing yang dapat berkaitan dengan kondisi saluran kemih, sekaligus menjadi alternatif terhadap produk konvensional yang sulit terurai dan menghasilkan banyak debu, seperti pasir kucing berbahan bentonite.
Felyhart diciptakan oleh tim yang beranggotakan Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan (Teknik Industri 2024) dari Fakultas Teknik, Rayhan Farel Ramadhani dari Fakultas Kedokteran Hewan, dan Humairo’ Labiiba dari Sekolah Vokasi dengan dosen pendamping Dr. drh. Madarina Wassisa dari Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan. Dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang berjudul “Felyhart: Inovasi Pasir Kucing Organik Antimikroba Penekan Transmisi Fekal-Oral dengan Indikator pH Urine Terintegrasi Sistem Pemantauan Kesehatan Digital” pembuatan pasir kucing ini memanfaatkan limbah ampas tebu sebagai bahan dasar, indikator pH alami, serta natrium propionat yang berfungsi membantu menghambat pertumbuhan bakteri pada pasir kucing.
Adanya kandungan indikator pH alami menyebabkan gumpalan pasir kucing felyhart dapat berubah menjadi kemerahan pada kondisi urine asam, kehijauan pada kondisi basa, dan berwarna coklat pada kondisi urine normal. Tingkat pH urine yang terlalu asam maupun basa inilah yang menjadi indikasi awal adanya batu kemih pada kucing. Untuk memudahkan interpretasi perubahan warna pasir kucing, pengguna dapat mengakses website Felyhart melalui kode QR yang tertera pada kemasan bagian belakang. Pada halaman utama, pengguna cukup memilih fitur ‘cek perubahan warna’ dan mengupload foto gumpalan pasir kucing sesuai arahan yang telah diberikan. Setelah itu, sistem akan memberikan hasil analisis tingkat pH urine kucing, beserta indikasi penyakit yang mungkin diderita, dan dilengkapi dengan tindakan yang dapat diambil oleh pemilik.
Pratiwi Putri Hasibuan menyatakan kalau dari sisi Teknik Industri, tim melakukan penerapan ilmu seperti market research, perencanaan operasional, dan pengembangan produk berdasarkan kebutuhan konsumen. “Kebetulan saya sebagai Chief Marketing & Operations Officer yang lebih banyak mengurus bagaimana Felyhart biar bisa diterima di pasaran, mulai dari menentukan target konsumen dan strategi pemasaran sampai mengatur produksi, memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga, dan lain-lain,” tutur Putri.
Menurut drh. Madarina, inovasi pasir kucing ini juga memiliki potensi dalam membantu mengurangi risiko penularan penyakit. “Banyak penyakit yang penularannya berkaitan dengan kontaminasi feses. Dengan menjaga kebersihan pasir dan membantu mengurangi kontaminasi, diharapkan rantai penularan penyakit dapat ditekan sehingga risiko infeksi juga dapat dikurangi,” jelasnya. Selain itu, Pada tahun 2020, penyakit Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) terdaftar di antara 25 anomali kucing paling umum di Yogyakarta, Indonesia. Penyakit FLUTD yang tidak ditangani dengan segera dan tepat dapat menyebabkan rasa tidak nyaman bagi kucing, bahkan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, diperlukan adanya produk yang mampu mendeteksi adanya FLUTD dengan mudah dan cepat.
Saat ini, Felyhart telah diproduksi secara massal dan dapat dipesan melalui instagram @pkmkugm_felyhart maupun Shopee Felyhart atau dibeli langsung pada beberapa pet shop, salah satunya di Toko Bu Ros yang berada di Jl. Wongso Premujo, No. 37, Sleman, Yogyakarta. Felyhart juga telah mendapat respons positif setelah digunakan secara langsung oleh pemilik kucing. Kinar, salah satu pengguna Felyhart, mengungkapkan pengalamannya mengenai daya serap dan kemampuan pasir dalam membentuk gumpalan. “Pasirnya bagus dan ternyata bisa menggumpal dengan baik. Gumpalan pasir Felyhart lebih kering, jadi sejauh ini menurut saya lebih baik dibandingkan pasir tofu yang pernah saya gunakan. Biasanya pasir tofu cenderung lembek seperti bubur, sedangkan Felyhart mampu menyerap urine dan menghasilkan gumpalan yang lebih kering sehingga lebih mudah dibersihkan,” ujar Kinar.
Potensi pasar Felyhart terbilang menjanjikan mengingat populasi kucing peliharaan di Indonesia terus meningkat seiring tren pet parenting yang semakin populer, khususnya di kalangan generasi muda perkotaan. Meningkatnya kesadaran akan kesehatan hewan peliharaan turut mendorong permintaan terhadap produk-produk inovatif yang menawarkan nilai tambah, bukan sekadar fungsi dasar. Dengan menyasar segmen pemilik kucing yang peduli terhadap kesehatan hewan sekaligus isu keberlanjutan lingkungan, Felyhart memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar pet care nasional, bahkan berpotensi menembus pasar ekspor mengingat tren produk pet care berbasis bahan alami dan ramah lingkungan juga tengah berkembang secara global.
Kontributor: Tim Felyhart
