Semangat inovasi dan kolaborasi kembali membawa Tim Reactics UGM menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Indonesia Chemical Reaction Car Competition 2026, tiga tim Reactics berhasil meraih posisi berurutan. Reactics Antrasena meraih juara ke-3, disusul oleh Reactics Jayantaka di posisi ke-4, dan Reactics Antaredja di posisi ke-5. Kompetisi yang diikuti oleh belasan tim dari berbagai universitas di Indonesia ini, berlangsung pada 1-3 Mei 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Keberhasilan tersebut diraih melalui kerja sama tim multidisiplin dari berbagai departemen di UGM. Tim Antrasena dipimpin oleh Ikbar Habibi dari Departemen Teknik Kimia bersama tiga anggota tim, yaitu Asyiq Manarul Hidayah (Departemen Teknik Kimia), Ivo Albert Gabriel (Departemen Teknik Mesin dan Industri), dan Ibrahim Hanif Roland Saputra (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi). Tim ini juga didampingi oleh Nasywan Naufal dari Departemen Teknik Kimia sebagai manager tim.
Sementara, tim Jayantaka diketuai oleh Violin Frastica (Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika) dengan beranggotakan empat orang, yaitu Ichwan Amirudin (Departemen Teknik Kimia), Bremani Sirat Atmaja (Departemen Teknik Kimia), Riyo Yusuf Setyawan (Departemen Teknik Mesin dan Industri), Alvito Rizki Sidartawan (Departemen Teknik Mesin dan Industri), serta dengan bantuan manager, Catur Rahmat Pratama (Departemen Teknik Mesin dan Industri). Adapun Tim Antaredja dipimpin oleh Syah Reyza Atta (Departemen Teknik Kimia) dengan beranggotakan tiga orang, yaitu Michelle Gunadi (Departemen Teknik Kimia), Christian Mitchell Omard (Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika), dan Gregorius Venesta Silaen (Departemen Teknik Mesin dan Industri). Dalam pelaksanaannya, tim ini juga didukung oleh Sherly Sisilia Wijaya dari Departemen Teknik Kimia selaku manager tim.
Ketua tim Antrasena, Ikbar Habibi, memaknai kemenangan ini bukan sekadar peringkat, melainkan hasil dari ketahanan tim dalam menghadapi kendala teknis dan tekanan menjelang kompetisi. Ia menekankan bahwa kekuatan tim bukan pada individu, tetapi pada kemampuan untuk tetap tenang, beradaptasi, dan terus bergerak dalam situasi sulit. Bagi Ikbar, pengalaman ini juga menjadi pembelajaran bahwa kepemimpinan berarti menjaga arah di tengah ketidakpastian hingga tim mampu menyelesaikan apa yang telah dimulai. Asyiq, menjelaskan bahwa mobil Reactics Antrasena menggunakan sumber energi dari reaksi dekomposisi hidrogen peroksida yang menghasilkan gas oksigen dan air. Secara alami, reaksi ini berlangsung lambat sehingga diperlukan katalis untuk mempercepatnya. Tim Reactics telah melakukan riset terhadap beberapa katalis, seperti yeast, KI, dan FeCl₃. Berdasarkan hasil pengujian, FeCl₃ memberikan performa terbaik jika ditinjau dari aspek ekonomis, laju reaksi, serta persen konversi yang dihasilkan.Ia juga menambahkan bahwa mekanisme penghentian mobil dirancang agar dapat berhenti secara otomatis ketika gas oksigen telah habis digunakan. Mobil akan berhenti saat tekanan dalam sistem mencapai batas minimum yang telah ditentukan.
Dalam persiapan kompetisi, salah satu tantangan utamanya adalah menjaga ketelitian dari tahap desain hingga eksekusi di lapangan. Selama fase persiapan, tim melakukan uji coba, perawatan rutin, dan terus mengoptimalkan kinerja kendaraan untuk memastikan bahwa desain 3D dapat berhasil diwujudkan menjadi model fisik. “Banyak penyesuaian yang kami lakukan, terutama dalam menentukan setelan transmisi roda gigi agar tenaga gas dapat tersalurkan secara maksimal tanpa menyebabkan roda selip. Selain itu, distribusi berat mobil juga harus diperhatikan supaya mobil dapat bergerak lurus secara konsisten,” ungkap Ivo.
Pada hari kompetisi, tantangan bergeser ke arah ketelitian dalam kalibrasi. Sebagai starter, beberapa anggota tim Antrasena, diharuskan untuk mengontrol bukaan katup gas secara akurat. Mereka juga harus memastikan bahwa seluruh sistem beroperasi secara terintegrasi dan otomatis sehingga kendaraan dapat berhenti tepat di titik target yang ditentukan. Detik saat mobil Antrasena akhirnya melaju di lintasan menjadi momen yang tak terlupakan. Ini merupakan hasil dari seluruh kerja keras yang telah dicurahkan. “Perasaan yang hadir saat perlombaan berlangsung begitu campur aduk. Kami merasa bangga dan haru melihat mobil Antrasena mampu menjalankan tugasnya, tetapi juga diliputi ketegangan, menanti apakah mobil dapat berhenti tepat di garis akhir sesuai perhitungan yang telah dilakukan,” ujar Ibrahim. Ibrahim menjelaskan bahwa perjalanan menuju kompetisi tidaklah mudah. Selama proses riset dan pengembangan, tim kerap menghadapi perbedaan pendapat hingga berbagai kendala teknis. Namun, ketika memasuki arena perlombaan, seluruh anggota tim mampu mengesampingkan ego masing-masing dan memilih untuk saling percaya demi mencapai hasil terbaik bersama.
Pencapaian yang diraih oleh Reactics Antrasena, Jayantaka, dan Antaredja tidak luput dari dukungan seluruh anggota Reactics Chem-E-Car UGM, para dosen pembimbing, yaitu Prof. Ir. Budhijanto, S.T., M.T., Ph.D., IPM, Addin Suwastono, S.T., M.Eng., Mokhammad Fajar Pradipta, S.Si., M.Eng., dan Robertus Dhimas Dhewangga Putra, S.T., M.Eng., Ph.D., dan para mitra sponsor, yaitu PT VALE Indonesia Tbk., PT Gagas Energi Indonesia, PT Nissan Motor Indonesia, dan PT Pupuk Kalimantan Timur. Meskipun target utama belum tercapai, General Manager Reactics UGM, Riyo, memaknai hasil ini sebagai bahan evaluasi sekaligus motivasi untuk terus berkembang. Ke depannya Reactics berkomitmen untuk memperkuat strategi, meningkatkan kualitas teknis, dan mempererat sinergi tim. Dengan berfokus pada riset dan pengembangan berkelanjutan, tim Reactics UGM berharap dapat meraih hasil terbaik di kompetisi nasional maupun internasional berikutnya.
Kontributor: Tim Reactics UGM
