Strategi TRES-pass Antarkan Tim Pretty WoMen UGM×ITB Raih Juara 1 dan Best Presentation IBCC Billions 2026

Mahasiswa Program Studi Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM, Fatika Permata Dewi dan Derichson Qualimva (Teknik Industri 2024) bersama Fadil Alfayat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil meraih Juara 1 sekaligus penghargaan Best Presentation dalam kompetisi IBCC Billions 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Unilever Indonesia. Grand final berlangsung pada Sabtu (24/10) di Auditorium Raden Wijaya, Lantai 11, Gedung E, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang. Kompetisi ini mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai universitas di Indonesia, dengan Juara 2 diraih oleh Triple Sync dari Universitas Indonesia dan Juara 3 oleh Vienna dari kolaborasi ITB dan Universitas Airlangga.

Bertema “Orchestrating Industry Transformation Through Value-Driven Ascendance”, peserta diminta menyelesaikan studi kasus bisnis nyata dari Unilever. Di babak final, tim yang tergabung dalam nama Pretty WoMen ini mengusulkan TRES-pass strategy: TRESemmé Premium Architecture & Salon-Proof System — sebuah kerangka strategi untuk menjawab tantangan brand TRESemmé dalam mempertahankan nilai premiumnya tanpa harus memotong harga, menyelaraskan arsitektur pack-price di setiap kanal distribusi, dan mengalokasikan anggaran terbatas untuk merebut kembali pangsa pasar.

“Akar masalah TRESemmé sebenarnya bukan gagal di harga, melainkan gagal di bukti (proof), kehadiran kanal, dan pendanaan,” ujar Fatika. Solusi yang ditawarkan tim terdiri dari tiga tahap. Pertama, Channel Value Architecture, yaitu arsitektur pack-price yang berbeda di setiap kanal tanpa memotong harga: Modern Trade mempertahankan kemasan 340 ml dan menambah large pack, General Trade memakai sachet dan kemasan 170 ml, sementara Digital Commerce menggunakan format refill dan bundle. Kedua, Professional Proof Ecosystem dengan pendekatan Engage–Experience–Enhance, mencakup edukasi hair concern, Hair Quiz untuk rutinitas perawatan personal, dan Progress Card terverifikasi stylist sebagai konten sosial. Ketiga, Institutionalize, berupa sertifikasi stylist dan salon agar bukti profesional dapat diskalakan secara sistematis.

Proyeksi keuangan lima tahun menunjukkan GMV tumbuh dari IDR 163 miliar di tahun pertama menjadi IDR 300 miliar di tahun kelima dengan investasi program IDR 4,21 miliar. “ROI mencapai 7,36x pada base case dengan payback sekitar 8 bulan,” tambah Fatika. Karya ini dinilai oleh tiga juri dari kalangan profesional: Gabriela Alda Musu (Key Account Manager Health & Beauty Channel Unilever Indonesia), Adrian Siregar (Financial Services Regulator, Ex-konsultan Big 4, MBA Hult International Business School Boston), dan Hakim Effendy (Consultant Risk & Financial Advisory, Ex-konsultan Big 4, Ex-CFOO startup SaaS).

Perjalanan menuju podium juara tidak lepas dari proses panjang selama tiga babak. Babak penyisihan mengangkat studi kasus strategi digital commerce Pepsodent dengan luaran tiga slide yang dikumpulkan pada 8 September 2026. Babak semifinal beralih ke kasus TRESemmé dengan luaran pitch deck PDF maksimal 20 halaman, di mana tim meraih skor 83,87. Babak final mengharuskan tim memadatkan seluruh strategi ke dalam maksimal 10 slide untuk dipresentasikan langsung di hadapan juri — dan bobotnya mencakup 50% dari nilai akhir. “Tantangan terbesarnya adalah meringkas strategi lengkap 20 halaman beserta lampiran tanpa menghilangkan alur logika dari masalah, solusi, hingga angka finansial,” jelas Fatika.

Selain keterbatasan slide, tim juga harus menghadapi minimnya data absolut dalam case yang diberikan. “Karena case tidak memberikan volume penjualan absolut per kanal, kami harus menyusun baseline dari asumsi yang eksplisit dan mengujinya lewat skenario bear, base, dan bull agar proyeksi finansial tetap kredibel di hadapan juri,” tambahnya.

Dari keseluruhan pengalaman ini, tim Pretty WoMen memetik pelajaran berharga dari umpan balik juri: bahwa solusi bisnis yang baik tidak cukup hanya kreatif dan terukur. “Solusi juga harus berakar pada kondisi makro Indonesia saat ini — daya beli, perilaku belanja, struktur kanal distribusi, dan sebaran geografis — serta diuji ketahanannya: apakah masih relevan dan layak jika diterapkan lima tahun ke depan. Dari sini kami belajar membangun rekomendasi yang berpijak pada konteks nyata, bukan sekadar angka di dalam model,” pungkas Fatika.

Kontributor: Fatika Permata Dewi (Teknik Industri 2024)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses