Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM) kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah kompetisi akademik nasional. Tim BelajarCariCuan beranggotakan Erick Saputra Rawung (Teknik Mesin 2023), Abdi Yuridan Arsya (Teknik Mesin 2023), dan Michelle Carissa Purnama (IUP Teknik Industri 2024) berhasil meraih gelar Juara 1 dalam ajang POISE UGM 2026 Business Case Competition yang diselenggarakan pada Sabtu (24/10) di selasar Gedung Prof. Roosseno Soerjohadikoesoemo – Smart Green Learning Center (SGLC), Fakultas Teknik UGM. POISE UGM 2026 merupakan Business Case Competition bergengsi yang mempertemukan mahasiswa terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk merancang solusi nyata atas permasalahan bisnis dan kebijakan strategis nasional. Dalam kompetisi ini, panitia menetapkan lima kategori penghargaan: Juara 1, Juara 2, Juara 3, Best Paper, dan Best Presentation. Dewan juri terdiri dari dua perwakilan profesional dari PT Pertamina serta satu dosen dari Departemen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada. Hasil lengkap kompetisi mencatat bahwa Juara 1 dan Juara 2 diraih oleh tim dari Universitas Gadjah Mada, sementara Juara 3 diraih oleh tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Tema yang diangkat dalam kompetisi ini mencerminkan urgensi isu ketahanan energi Indonesia. Di tengah situasi geopolitik global yang bergejolak, termasuk konflik bersenjata di berbagai wilayah dan krisis Selat Hormuz yang mengancam jalur distribusi energi internasional. Indonesia yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri dan masih sangat bergantung pada impor membuat kondisi ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan ketahanan nasional. Tim BelajarCariCuan menghadirkan solusi komprehensif yang mencakup tiga lini rantai nilai energi secara terintegrasi. Pada sisi hulu, tim mengusulkan penguatan kontrak kemitraan strategis untuk menjamin pasokan energi yang stabil. Pada sisi tengah, tim merancang optimalisasi distribusi melalui jaringan pipa yang sudah ada dan armada truk untuk memperluas jangkauan logistik. Pada sisi hilir, tim mendorong perluasan akses konsumen melalui mekanisme kredit karbon yang inovatif. Seluruh ekosistem ini dirangkum dalam satu platform aplikasi terintegrasi yang memungkinkan pengelolaan rantai pasok energi secara transparan, efisien, dan berkelanjutan.
Untuk meraih gelar juara, Tim BelajarCariCuan melewati tiga tahapan kompetisi yang ketat: babak Preliminari, babak Semifinal, dan babak Final. Setiap babak menuntut kemampuan analisis mendalam, kreativitas dalam merumuskan solusi, serta kemampuan presentasi yang meyakinkan di hadapan para juri berlatar belakang industri dan akademisi. Dalam perjalanan menuju podium juara, tim tidak lepas dari berbagai tantangan. Kesulitan utama yang dihadapi adalah memperoleh data yang akurat dan valid sebagai dasar analisis, serta merancang solusi yang tidak hanya inovatif secara konseptual, tetapi juga layak diterapkan secara teknis dan ekonomis di lapangan. “Lomba ini mengajarkan kami bahwa solusi terbaik lahir dari ketekunan mencari data yang tepat dan keberanian berpikir di luar batas. Kami tidak hanya belajar tentang energi, kami belajar bahwa dengan kerja keras dan pantang menyerah, setiap tantangan bisa diubah menjadi peluang yang bermakna,” tutur Michelle. Keberhasilan Tim BelajarCariCuan bukan semata soal kemenangan, melainkan cerminan dari nilai kerja keras dan pantang menyerah yang diinternalisasi oleh ketiga anggota tim. Pengalaman ini memperkuat kapasitas akademik dan profesional mereka sebagai calon pemimpin masa depan yang siap berkontribusi nyata bagi Indonesia.
