Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim yang terdiri atas Ali Ahmad Yassin (TI 2023), Adinda Zahra Nabillah (TK 2023), dan Muhammad Faiz Maulana Al Hazza (TI 2023) berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Industry Case Competition I-CHALLENGE 2026, kompetisi tingkat internasional yang diselenggarakan pada 9–10 Mei 2026 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Dalam kompetisi tersebut, Juara 1 diraih oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Juara 2 oleh Calvin Institute of Technology, dan Juara 3 oleh Universitas Gadjah Mada. Tema yang diangkat pada kompetisi tahun ini adalah “Optimization of Green Process through Circular Resources towards Regenerative Future”.
Kompetisi ini menantang peserta untuk merancang solusi inovatif terhadap persoalan industri melalui tahapan penyusunan abstrak, full paper, presentasi, dan poster berdasarkan studi kasus yang diberikan panitia. Setelah melalui seleksi abstrak dan full paper, tim UGM berhasil lolos ke babak final dan mempresentasikan gagasannya secara luring di hadapan dewan juri yang terdiri atas akademisi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, akademisi Teknik Kimia Universitas Brawijaya, serta praktisi dari PLN Nusantara Power.
Mengangkat isu keberlanjutan industri energi, tim UGM menawarkan solusi pemanfaatan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) hasil pembakaran batu bara menjadi material adsorpsi air melalui teknologi Modular Optimized Reactive Filter (M.O.R.F.). Solusi ini berupa sistem penyaring air berbasis packed bed columns yang dirancang untuk membantu proses pemurnian effluent dari fasilitas wastewater treatment milik PLN Nusantara Power Unit Pembangkit Paiton. Air hasil pengolahan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan operasional pembangkit sekaligus mendukung program CSR penyediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah Probolinggo yang kerap mengalami krisis air selama musim kemarau panjang. Gagasan ini sejalan dengan pendekatan ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan kembali limbah industri menjadi sumber daya bernilai guna.
Dalam publikasi DTMI UGM disebutkan bahwa solusi M.O.R.F. dikembangkan melalui pendekatan teknis dan kimia dengan fokus pada analisis kebutuhan hulu-hilir serta kajian techno-economic analysis untuk memastikan kelayakan implementasinya dalam skala industri. Melalui konsep tersebut, tim berupaya menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah FABA, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap penyediaan air bersih dan keberlanjutan operasional industri energi.
Ali Ahmad Yassin mengungkapkan bahwa proses perancangan solusi tidak berjalan mudah karena tim harus memahami karakteristik limbah yang sebelumnya belum pernah mereka tangani secara langsung. “Tantangan yang dihadapi adalah proses brainstorming untuk idenya. Karena kami sendiri belum pernah berinteraksi secara langsung dengan limbah Fly Ash dan Bottom Ash yang merupakan objek dari kompetisi ini. Sehingga ide yang kami rancang hanya based on data sekunder dan penelitian di internet. Selain itu kita harus menemukan waktu luang untuk mengerjakan case lomba ini di tengah padatnya perkuliahan di semester 6,” ujar Ali.
Melalui kompetisi ini, tim juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai tantangan pengelolaan limbah pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Menurut Ali, limbah FABA merupakan persoalan yang semakin mendesak karena volumenya terus bertambah sementara tingkat pemanfaatannya masih terbatas. “Kami semakin mengetahui bahwa pembakaran batu bara menghasilkan limbah FABA yang memang sangat concerning karena limbah tersebut menumpuk di landfill akibat rendahnya utilisasi dan terbatasnya teknologi pengolahannya. Limbah tersebut masih akan terus dihasilkan selama masih ada aktivitas pembakaran batu bara. Dan jika tidak ada ide penyelesaian yang kontinu, maka landfill yang tersedia tidak akan cukup untuk menampung semua limbah yang dihasilkan dari aktivitas pembangkit listrik tenaga uap tersebut,” jelasnya.
Keberhasilan ini menunjukkan komitmen mahasiswa UGM dalam menghadirkan inovasi berbasis rekayasa yang mampu menjawab tantangan lingkungan dan industri secara berkelanjutan. Melalui pemanfaatan limbah menjadi solusi penyediaan air bersih, gagasan yang diusung tim tidak hanya menawarkan pendekatan teknis yang inovatif, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan yang nyata bagi masyarakat.
Kontributor: Ali Ahmad Yassin (TI 2023)
