Menjadi permulaan Guest Lecture pada 2026, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM mengundang Prof. Stephan Onggo dari University of Southampton untuk memberikan kuliah bertajuk ”Digital Twin Simulation for Decision-Making in Operations and Supply Chain Management”. Guest Lecture ini dilaksanakan pada Jumat (13/02), bertempat di Laboratorium Menggambar Teknik DTMI. Kuliah ini dibuka untuk umum, sehingga dihadiri bukan hanya oleh mahasiswa, namun juga alumni dan praktisi yang tertarik dengan teknologi digital twin.
Secara konsep, menurut paparan Prof. Onggo, digital twin mengharuskan adanya objek nyata, objek digital, dan interaksi terus menerus dari keduanya. ”Manusia berposisi di tengah, sehingga nantinya digital twin bukan menggantikan manusia namun augment manusia,” paparnya. Dalam membentuk keputusan, proses yang dijalankan oleh sistem digital twin dimulai dari input data yang diperoleh dari objek fisik, kemudian data tersebut dianalisis, mengalami proses optimasi yang meliputi penyusunan simulasi model dan pembentukan keputusan, dan akhirnya keputusan tersebut dijalankan oleh objek fisik. ”Dalam membentuk model simulasi, sistem ini mengandalkan machine learning yang mempelajari berbagai input dan output objek fisik,” tambahnya. Perbedaan digital twin dengan digital shadow yang selama ini umum digunakan, menurut paparan Prof. Onggo, adalah apabila keputusan yang dihasilkan oleh digital shadow tidak langsung dijalankan pada objek fisik, digital twin langsung menjalankan keputusan yang telah ditentukan berdasarkan data dari objek fisik ke objek fisik kembali.
Proses dalam sistem digital twin yang melibatkan model simulasi dalam riset operasi maupun sistem manajemen menuntut model yang bersifat nyata (eksplisit) serta dapat didiskusikan dan dinilai. ”Model adalah sebagian dari realita. Make the simplest, but not simpler,” tutur Prof. Onggo. Prof. Onggo menambahkan juga perlunya pertimbangan bias subjektivitas manusia yang terlibat di dalam sistem, sehingga perlu suatu usaha untuk meminimalisasi.
Meski digital twin telah digunakan di berbagai lini, antara lain di dunia maritim (mitigasi insiden migas, notifikasi jadwal pengisian ulang baterai electrival vessel, asesmen desain purwarupa kapal menggunakan kalibrasi referensi desain), bus tanpa pengemudi, observasi okupansi rawat inap rumah sakit, airline disruption management, serta penentuan prioritas perbaikan mesin pabrik, kenyataannya biaya yang diperlukan untuk pengembangan dan penggunaan digital twin masih tergolong mahal. Oleh karena teknologi ini merupakan teknologi yang berpotensi memberikan efisiensi waktu dan tenaga, usaha untuk menempatkan digital twin sebagai sistem yang terjangkau dilakukan oleh Singapura dengan menyediakan open platform bagi Small and Medium Enterprises (UMKM) sehingga mereka dapat lebih familiar dengan sistemnya dan kemudian menerapkan digital twin dalam proses usahanya.
Tantangan penggunaan digital twin dalam sistem operasi adalah pentingnya pembaharuan model secara reguler, otomatisasi input data, kemungkinan adanya anomali data, serta situasi realita yang berubah secara terus menerus. Oleh karena itu, Prof. Onggo menekankan pentingnya banyak sumber daya manusia (SDM) yang dapat memahami teknologi tersebut. ”Aplikasinya sudah bisa ke mana saja, serta menjadi proyek strategis nasional di beberapa negara. Karena masih banyak open channel untuk digital twin, maka penting untuk adanya SDM yang multidisipliner dalam penerapannya,” pungkasnya.

