Arsip:

Kabar Prestasi

Tim Gamantaray Berjaya di COMET 6.0

Salah satu tim lomba UGM, Gamantaray, sekali lagi meraih prestasi dalam ajang COMET 6.0 2025 yang diadakan oleh Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya. Tim Gamantaray meraih juara 1 pada cabang lomba Fuel Engine Remote Control Boat Race Competition, menjadi yang terbaik di antara 15 tim yang turut bertanding dalam ajang tersebut.

Dalam persiapan menghadapi final race yang dilaksanakan pada 2-4 Mei 2025, Haikal Ahmad Siregar, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022 sekaligus Ketua Divisi Mekanis tim Gamantaray, menjelaskan bahwa persiapan tim dimulai dengan mempersiapkan wahana yang akan berkompetisi. “Dari segi manufaktur, kami melakukan riset untuk membuat hull (lambung kapal – red.) agar bisa seringan mungkin dan dapat melaju cepat,” tutur Haikal. Oleh karena cabang yang diikuti oleh Gamantaray adalah Fuel Engine Remote Control, wahana yang dilombakan dirancang menggunakan mesin 2 tak 32 cc sebagai standar yang ditentukan dalam perlombaan, dengan bahan bakar yang digunakan adalah Pertamax Turbo. Dalam hal desain badan wahana, Haikal memaparkan bentuk desain dari wahana dirancang menurut jenis lintasan. ”Kalau lintasan banyak belokan, kita akan lebih condong untuk membentuk hull lebih lancip yang secara manuver lebih bagus, sedangkan pada kompetisi ini, lintasannya banyak lurusan dan kita menggunakan hull yang lebih datar, sehingga pada lintasan lurus lebih stabil,” paparnya. Sebelum pelaksanaan rangkaian lomba, tim panitia COMET telah memberitahukan bentuk lintasan yang harus dihadapi oleh tim Gamantaray. ”Kami sudah bisa memperkirakan di lintasan itu ada 1 putar balikan, belokan kanan, kanan lagi, kemudian lurusan, sehingga kita memilih untuk hull lebih datar karena belokannya hanya dua kali dan yang krusial adalah bagian lurusan karena jaraknya panjang dan kami mengejar waktu untuk drag race,” tutur Haikal.

Memulai persiapan dari Januari 2025, tim Gamantaray melaksanakan manufaktur kapal pada Maret 2025. Sebelum kapal diselesaikan dari proses manufaktur, pelatihan pilot baru untuk pemegang kendali kapal menggunakan wahana yang sudah ada terlebih dahulu. ”Karena pilot kami berasal dari angkatan 2023 dan baru tahun pertama di Gamantaray, kami sering-sering lakukan latihan agar terbiasa memegang remote,” terang Haikal. Haikal menambahkan bahwa pelatihan pilot yang dilaksanakan sejak Januari kemudian ditingkatkan frekuensinya yang awalnya satu minggu sekali menjadi satu minggu 3-4 kali pada saat H-1 bulan menuju final race. ”Dari latihan yang dilakukan, sangat terlihat progress-nya, dinilai dari pencapaian waktu tempuh kita yang semakin berkurang,” tuturnya.

Dalam pembagian tugas tim, dalam tim utama Gamantaray ada 3 bagian, yaitu ketua tim, mekanik, dan pilot. Haikal menerangkan bahwa segala hal yang berkaitan dengan kondisi wahana merupakan tanggung jawab ketua tim dan mekanik. ”Pilot tidak perlu memikirkan kondisi kapal, yang penting dia mengurusi jalannya kapal saja,” tuturnya. Penentuan pembagian tersebut dilakukan sejak rekrutmen terbuka, dengan semua pendaftar dites menjadi pilot dan dinilai potensinya lebih baik di bidang apa.

Salah satu elemen yang menjadi tantangan tim Gamantaray dalam ajang COMET 6.0 ini adalah pilot yang baru tahun pertama. ”Cukup struggle dalam mengajari agar dapat menyesuaikan diri dalam melakukan manuver, dan kapan untuk menekan rem dan gas,” tutur Haikal. Meski demikian, Haikal mengakui bahwa pilot baru tersebut memiliki progess yang baik dibanding pilot sebelumnya dengan pencapaian tahun pertamanya adalah juara fun race, sedangkan untuk pilot yang baru dapat meraih juara 1 pada kompetisi pertamanya.

Sebagai sebuah tim, Gamantaray menilai bahwa dari lomba COMET 6.0 ini, stabilitas dan konsistensi adalah kunci baik dari segi wahana maupun anggota. ”Banyak tim lain yang mengalami kesulitan dalam menyalakan mesin karena kendala pada stabilitas mesin. Jadi sekencang apapun kapalnya, jika mesinnya tidak stabil, maka sulit untuk menang,” tutur Haikal.

Tim Gamantaray akan terus berfokus untuk mencetak prestasi dengan segala usaha dimaksimalkan untuk meraih juara. ”Apapun perlombaannya, target kita adalah juara. Jadi akan kita buktikan kualitas kita dari hasil,” tegas Haikal. Haikal menuturkan bahwa demi hasil yang maksimal, perlu persiapan yang matang dalam menghadapi lomba, serta memfokuskan diri pada hal-hal yang menjadi kegemaran atau kesukaan. ”Saya masuk Gamantaray karena lumayan tertarik dengan perkapalan, sehingga ketika masuk di situ jadi nyaman, bukan merasa terpaksa dalam menjalani,” tuturnya. Dalam mengatur keseimbangan dengan kuliah, Haikal mengaku bahwa mengatur jam istirahat serta berolahraga biasa ia lakukan. ”Selama kegiatan yang dijalani baik, mengatur waktu tidur satu atau 2 jam per minggu masih tidak apa-apa. Selain itu olahraga juga berpengaruh. Untuk itu, biasanya sembari trial kapal, kami juga berenang di Wisdom Park,” ujarnya. Pentingnya memiliki hobi atau kegemeran juga dinilai penting dalam menjaga kesehatan pikiran. ”Di tengah kesibukan yang berulang terus dan menjenuhkan, hobi hadir untuk menghibur dan refresh otak kita,” pungkasnya.  

Sumber foto: Laman Web UGM

Meraih Prestasi dalam Mechanical Fest 2025

Melanjutkan tradisi prestasi, tim yang terdiri dari mahasiswa Program Studi (Prodi) Sarjana Teknik Mesin dan Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM kembali meraih gelar juara dalam perhelatan Mechanical Festival yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang babak finalnya dilaksanakan pada 2-3 Mei 2025. Dalam kompetisi tesebut, mahasiswa DTMI memperoleh juara 5 untuk cabang Pipeline Design Competition dan juara 1 untuk Innovative Paper and Poster Competition.

Ghitha Aufar Mazaya, mahasiswa Teknik Mesin 2022, bersama dengan timnya mengikuti cabang Pipeline Design Competition. ”Kompetisi tersebut dibagi menjadi 3 babak, yaitu eliminasi, semifinal, dan final. Pada babak eliminasi yang diadakan secara online, dengan instruksi untuk membuat sebuah jalur perpipaan dari Brebes menuju Nusakambangan,” tuturnya. Pada babak eliminasi, peserta diberikan data berupa unduhan dari Google Earth dengan titik-titik koordinat. ”Dalam merancang pipa, kami mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jarak, kondisi medan, dan faktor-faktor lain seperti kawasan dilindungi dan pegunungan. Jarak rute jalur pipa yang kami rancang adalah mencapai 124 kilometer,” tutur Aufar. Menurut Aufar, permintaan konsumen juga menjadi faktor yang harus diperhatikan, terutama kaitannya dengan biaya pembangunan jalur pipa yang akan mengantarkan fluida berupa gas dengan tekanan dari Brebes sampai Nusakambangan tetap, yaitu 400 psi. ”Penempatan kompresor penting karena berkaitan dengan safety. Selain itu, bila daya operasional dari kompresor tinggi, bisa jadi over budget. Perancangan juga tidak boleh melewati crossing karena itu bisa membuat biaya tinggi, serta tidak boleh melewati kawasan padat penduduk dan fasilitas umum, seperti jalan raya dan rel kereta api, maka itu menjadi tantangan kami,” tambahnya.  Perancangan jalur perpipaan dalam kompetisi ini mengikuti standar dan peraturan yang sudah ada dalam referensi dari panitia yang menjadi panduan tim. ”Dalam melakukan penghitungan analisis tegangan dalam kompresor, kami menggunakan perangkat lunak atau software yang sudah disediakan panitia, dengan lisensi selama 1 tahun untuk software tersebut,” terang Aufar. Analisis yang dilakukan tim Aufar tidak hanya sekali jadi, namun dilakukan pemeriksaan agar bagian yang salah dapat ditemukan dan segera diperbaiki. ”Kami jadi perlu lebih teliti lagi di babak eliminasi, karena banyak yang kecolongan di babak itu,” ujarnya. Lolos babak eliminasi, tim Aufar melaju ke babak semifinal yang kegiatannya termasuk company visit ke PT Geo Dipa Energi Unit Patuha. Company visit juga memuat kasus nyata yang harus dikerjakan oleh peserta yang berupa penggunaan panas bumi secara langsung dalam sektor pertanian, budi daya maggot, dan penghangat ruangan, sehingga peserta diminta untuk merancang pipa dalam mengalirkan panas bumi tersebut, serta kasus pergeseran pipa yang ada di sumur panas bumi PT Geo Dipa sehingga membutuhkan banyak support, dan peserta diminta memetakan peletakkan support yang ideal dan penambahan komponen-komponen lain untuk menghindari pergeseran terjadi lagi. ”Selain kasus nyata, di babak semifinal kami juga diminta untuk mengerjakan basic knowledge test mengenai rancangan dan juga referensi yang kami gunakan. Soalnya terdiri dari 7 nomor dan dikerjakan selama 1 jam,” tutur Aufar. Menurut Aufar, kunci dari babak semifinal adalah time management, karena pemodelan yang membutuhkan waktu lama dan komponen analisis yang banyak dengan waktu yang terbatas, sehingga banyak tim yang kelabakan. Lolos ke babak final, tim Aufar menjalani final pitching, yaitu presentasi hasil kerja pada babak eliminasi sampai semifinal, dengan dewan juri adalah praktisi dalam dunia energi terbarukan dan disaksikan oleh guru besar dari ITB. Meski dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dewan juri, Aufar mengaku ia dan timnya belum dapat mencapai hasil maksimal. ”Untuk beberapa hal yang belum ditampilkan di presentasi, kami belum dapat menjawab dengan baik,” akunya. Biarpun demikian, tim UGM dapat meraih juara 5, mengalahkan keseluruhan 40 tim peserta.

Untuk cabang Innovative Paper and Poster Competition, tim UGM yang beranggotakan Danu Ari Wibowo, Yoga Sanjaya, dan Sandi Hutama, yang sama seperti cabang Pipeline Design, berisi mahasiswa dari Prodi Teknik Mesin dan Teknik Industri. Dalam paper tim UGM, Sandi menyatakan bahwa mereka mengangkat topik mengenai bidang energy recovery. “Lebih tepatnya kami mengangkat tentang “Optimalisasi Waste Heat Brine Panas Bumi Dieng Melalui Brine Heat Extraction Sebagai Penghangat Ruangan Guna Mewujudkan Energy Recovery dan Pariwisata Berkelanjutan”,” tuturnya. Dalam paper tersebut, tim UGM memaparkan bahwa Fluida sisa (brine) panas bumi di Dieng yang memiliki energi panas tinggi belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, wilayah Dieng yang bersuhu rendah (10–20°C) masih mengandalkan kayu bakar dan LPG untuk penghangat ruangan, yang menimbulkan emisi karbon. Penelitian ini mengevaluasi potensi pemanfaatan waste heat dari brine melalui rancangan sistem heat exchanger dan analisis teknis serta ekonominya. Hasil simulasi menunjukkan bahwa brine bersuhu 180°C mampu memanaskan udara dari 15°C ke 40°C dengan kapasitas perpindahan panas 18,126 kWt. Proyek ini menargetkan penerapan di 30 homestay pada tahun pertama dengan skema angsuran, dan secara ekonomi dinilai layak dengan IRR 16,75% dan NPV sebesar Rp4,96 miliar dalam 11 tahun. Inisiatif ini mendukung pemulihan energi dan pariwisata berkelanjutan di kawasan Dieng. Yoga menuturkan bahwa ada 57 tim yang bertanding di cabang Innovative Paper and Poster. “Kami melalui tahap seleksi abstrak, kemudian dari situ di seleksi 10 tim untuk masuk ke babak full paper dan presentasi,” tuturnya. Tim UGM dalam cabang tersebut menjalani 2 macam penilaian, yaitu expo dan presentasi. Untuk expo, peserta akan membuka booth dan melaksanakan penjelasan kepada para pengunjung booth serta peserta dari cabang lain yang berkunjung mengenai isi poster yang dipamerkan. “Expo poster dilakukan bersama dengan presentasi, jadi kami di ITB 2 hari, hari pertama mulai expo jam 1 siang sekaligus presentasi di hadapan dewan juri secara bertahap sesuai urutan dari jam 1 hingga malam, kemudian di hari kedua full expo,” tutur Yoga. Sandi menjelaskan bahwa di dalam expo, pengunjung bisa memberikan vote untuk menentukan most favorite poster. “Penilaian juara 1 didasarkan pada bobot 25% poster di luar vote, 25% presentasi, dan 50% full paper,” papar Sandi. Babak presentasi dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akedemisi ITB, anggota BRIN, dan praktisi industri.

Aufar menilai bahwa tim UGM masih perlu untuk menambah pengalaman dalam bidang terkait untuk dapat memperoleh hasil maksimal apabila mengikuti kompetisi serupa. ”Tim yang meraih juara 1 sampai 4, saat kami lihat, ternyata angkatannya setahun lebih tua dari kami dan kami kebanyakan tidak mengambil mata kuliah ranah perpipaan,” ujarnya. Selain perihal pengalaman, menurut Aufar dan tim, pertanyaan tidak terduga dari juri juga perlu untuk diantisipasi oleh tim, terutama jika pertanyaan bukan seputar mechanical analysis. ”Kebetulan ada anggota yang dari Teknik Industri, sehingga kami bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di luar mechanical analysis, namun untuk eksplorasinya, kami belum maksimal,” tuturnya. Oleh karena dalam 1 tim terdiri dari mahasiswa Teknik Mesin dan Industri, anggota dari Teknik Industri juga menyesuaikan dengan ranah keilmuan Teknik Mesin. ”Kami membagi tugas dalam tim. Untuk Teknik Industri, kami bagi untuk topik flow dan budgeting,” jelas Aufar. Pembagian topik juga dilakukan menjelang presentasi, sehingga kasus yang diberikan dapat tertangani dengan baik.

Pengalaman lomba dengan kasus aktual merupakan pengalaman yang berharga bagi Aufar dan tim. ”Banyak materi yang tidak kami peroleh di perkuliahan, seperti peraturan atau code, karena kami tidak terlalu menjurus ke ranah tersebut,” tuturnya. Berada dalam 1 tim dengan latar belakang berbeda juga mendorong Aufar dan tim untuk belajar koordinasi dan komunikasi agar tercipta 1 sudut pandang yang selaras. ”Kami belajar mengatur waktu di dalam kondisi yang penuh tekanan, dengan kondisi saat itu kami satu bulan mengerjakan babak eliminasi menabrak bulan Ramadan dan libur Lebaran. Karena kami bertemu secara offline 2 minggu, mau tidak mau selama Lebaran kami mengerjakan secara online melalui telepon WhatsApp, dan kami juga belajar secara mandiri dengan membagi tugas ke anggota,” paparnya. Melalui pengalamannya, Aufar menyarankan agar mahasiswa dalam mengikuti lomba untuk aktif bergerak dalam mencari referensi-referensi yang sudah ada untuk membantu dalam penyelesaian kasus atau persoalan yang dilombakan. ”Jangan hanya terfokus pada satu tempat, banyak hal di luar bidang kita yang perlu kita pelajari dan penting untuk merawat pengetahuan yang kita miliki, karena itu juga akan menunjang kita,” pungkasnya.

Farras: Tentukan Tujuan dan Jaga Relasi dengan Teman

Menjadi mahasiswa berprestasi merupakan sebuah pencapaian yang membanggakan bagi seorang mahasiswa, baik itu berprestasi di bidang akademik maupun bidang-bidang non akademik seperti lomba atau penghargaan lainnya. Memperoleh capaian prestasi tentu memerlukan usaha yang tidak sedikit dan tidak ringan, serta sulit apabila dalam usaha tersebut hanya dilakukan seorang diri. Usaha mencapai prestasi seringkali menuntut seorang mahasiswa untuk menjadi cerdas dalam menyusun strategi, seperti yang dilakukan oleh Farras Maula Audina, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sarjana Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM.

Dilansir dari akun Instagram Teknik Industri UGM (http://instagram.com/industri.ugm), Farras yang pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) UGM ini terpilih sebagai Juara I Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Fakultas Teknik UGM yang diseleksi dalam Seleksi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Fakultas di Lingkungan Universitas Gadjah Mada Tahun 2025 yang dilaksanakan pada Sabtu (08/03). Farras terpilih bersama 3 orang dari 8 kandidat yang mewakili beberapa departemen di lingkungan Fakultas Teknik UGM untuk nantinya maju ke tingkat universitas. ”Kriteria penilaian dalam seleksi Mapres terdiri dari beberapa komponen, antara lain capaian unggulan yang terkait dengan lomba-lomba dan kejuaraan, organisasi, kewirausahaan, karya tulis atau gagasan kreatif, pengakuan yang terkait dengan berperan menjadi narasumber, pembicara, atau juri, penghargaan yang umumnya berkaitan dengan HKI (Hak Kekayaan Intelektual – red.) untuk suatu produk, hasil karya berupa publikasi jurnal atau buku, volunteer pengabdian kepada masyarakat, dan kemampuan bahasa Inggris yang ditunjukkan dengan sertifikat dan tanya jawab dalam bahasa Inggris,” tutur Farras. Proses yang dilalui Farras rupanya sudah dimulai sejak masa awal ia berkuliah, dengan ia mengikuti banyak lomba dan aktif di organisasi. Meski kegiatan lomba dan organisasi ia ikuti tidak dengan tujuan mengikuti seleksi Mapres, Farras menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman yang ia peroleh ternyata dapat digunakan sebagai persyaratan pendaftaran seleksi. ”Sebelum naik ke tingkat fakultas, seleksi terlebih dahulu dilakukan di tingkat prodi, kemudian setelah dari prodi akan naik ke fakultas, dan dari fakultas akan diusung ke Pilmapres universitas yang akan dilaksanakan pada Sabtu (22/03),” tuturnya.  

Seleksi Mapres di tingkat prodi, menurut Farras, mengharuskan persyaratan yang kurang lebih sama dengan kriteria Pilmapres tingkat fakultas. ”Perbedaannya adalah seleksi Mapres Teknik Industri tidak ada syarat karya tulis,” ujarnya. Selain itu, Farras juga menambahkan bahwa perbedaan juga terdapat dalam penjurian antara seleksi di tingkat prodi dengan fakultas, yaitu pada tingkat prodi hanya dilakukan seleksi dokumen oleh Sekretaris Prodi, sedangkan pada tingkat fakultas, terdapat presentasi karya tulis serta wawancara mengenai portofolio yang telah memenuhi syarat dokumen. ”Pertanyaan oleh juri biasanya seputar acara atau kegiatan yang diikuti, penyelenggara, tempat kegiatan berlangsung, dan lain-lain,” tutur Farras. Dalam mempersiapkan langkahnya menuju Pilmapres tingkat universitas, Farras melaksanakan persiapan berkas portofolio seperti yang diserahkan pada seleksi tingkat fakultas dan persiapan presentasi. ”Maksimal kami diperbolehkan submit 10 dokumen portofolio, karena kriteria penilaian dari komponen-komponen persyaratan adalah keseimbangan satu sama lain,” tuturnya.

Dalam menyeimbangkan antara belajar dan kegiatan di luar kuliah seperti lomba dan organisasi, Farras menyatakan bahwa ia tidak mengejar untuk mengikuti terlalu banyak lomba ataupun berorganisasi dengan sangat keras. ”Dalam setahun saya ikut lomba mungkin hanya setidaknya 2 kali, dan itu sudah saya lakukan sejak semester 1 saat saya belum sesibuk saat ini, sehingga percobaan dan gagalnya sudah dihabiskan dalam periode itu dan untuk organisasi saya cukup melaksanakan tanggung jawab di dalamnya karena dulu saya ingin berorganisasi di HMTI,” ujarnya. Teman-teman kuliahnya juga menjadi faktor yang berperan besar dalam Farras menyeimbangkan aspek akademik dan non-akademiknya, termasuk dalam mengikuti seleksi Mapres. ”Teman-teman sangat membantu saat saya harus sekaligus menjalani perkuliahan dan kegiatan lainnya. Kemudian, salah satu portofolio yang saya serahkan adalah tugas besar semester 5, dan saya sudah meminta izin kepada teman-teman saya untuk submit tugas tersebut sebagai portofolio dengan beberapa modifikasi,” tutur Farras.

Ditanyai mengenai tips dalam menjadi mahasiswa yang berprestasi, Farras menyatakan bahwa mahasiswa sebaiknya sudah menentukan tujuan apa yang ingi dicapai selama dan setelah berkuliah. ”Tujuan yang telah ditentukan itu nantinya di-breakdown, lalu mulai ikuti kegiatan-kegiatan yang relevan dengan tujuan tersebut,” tuturnya. Farras juga menekankan pentingnya menjaga relasi dengan teman-teman di perkuliahan. ”Kita menjalani kuliah bersama dengan teman-teman, lomba juga dengan teman-teman, jadi jaga hubungan baik dengan teman-teman dan hindari sifat egois,” tegasnya. Mengenai pencapaian, Farras juga berpesan kepada adik tingkatnya yang mungkin juga ingin mencoba untuk mengikuti lomba-lomba untuk bersiap dengan segala konsekuensi yang dihasilkan dari mencapai kemenangan di lomba. ”Dengan diraihnya pencapaian, tentu nanti juga akan ada ekspektasi tinggi yang dikenakan, jadi harus siap dengan itu,” pungkasnya.  

Yulia Juarai Sampoerna University Academic Festival melalui Penelitian Daur Ulang Baterai

Yulia Venti Yoanita, mahasiswa Program Doktor Teknik Mesin UGM sekaligus dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Vokasional Teknologi Otomotif Universitas PGRI Yogyakarta memperoleh pencapaian prestasi berupa juari 1 dalam Student Conference Track 1 untuk kategori Sustainability Engineering pada ajang Sampoerna University Academic Festival yang diadakan pada 27-28 Februari 2025, bertempat di Sampoerna University, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Festival tersebut diikuti oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia, antara lain UGM, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Sampoerna University, President University, Universitas Pertamina, dan lain-lain.

Pada presentasi karyanya, Yulia mempresentasikan topik penelitian mengenai daur ulang baterai lithium-ion 18650. Dalam presentasinya, Yulia memaparkan bahwa proses daur ulang baterai lithium-ion 18650, menjadi salah satu langkah strategis dalam pengolahan limbah elektronik untuk mendukung keberlanjutan dan penghematan sumber daya mineral. “Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan metode mekanik yang efektif dalam memisahkan material penyusun baterai lithium sehingga dapat digunakan kembali secara optimal,” papar Yulia. Proses ini dirancang untuk menghasilkan material homogen yang dapat diolah lebih lanjut. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengambil black mass yang akan dan meminimalkan residu yang sulit didaur ulang seperti binder, separator, serta elektrolit. Metodologi yang digunakan meliputi tiga tahapan utama yaitu homogenisasi material melalui pemanasan pada suhu tertentu guna menghilangkan binder, separator, dan elektrolit serta pemecahan dengan mesin shredder untuk mereduksi ukuran material dan pengayakan serta penyaringan untuk memisahkan material berdasarkan fraksi ukuran. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa proses ini berhasil menghilangkan binder dan separator, sehingga material yang lebih homogen. Material melalui pengayakan dan penyaringan menghasilkan fraksi yang terpisah dengan baik. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan mekanik yang dilakukan mampu menghasilkan material daur ulang dengan tingkat kemurnian yang tinggi, yang dapat digunakan dalam proses daur ulang lanjutan. Selama pengerjaan penelitian tersebut, Yulia dibimbing oleh Dr. Ir. Budi Arifvianto, S.T., M.Biotech. dan Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng..

Selain Yulia, Dr. Ir. Khasani, S.T., M.Eng, IPM., ASEAN Eng. juga berpartisipasi pada festival yang sama sebagai pembicara dengan materi pengabdian masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Kontributor: Sani Wicaksono, S.E., M.M.
Editor: Gusti Purbo Darpitojati, S.I.Kom.

SEMAR UGM Raih Juara 2 di Ajang Shell Eco-Marathon Asia Pasifik & Timur Tengah 2025

Masa depan dunia ada di tangan generasi muda, dan inilah alasan utama mengapa Shell Eco-Marathon diciptakan. Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Shell Eco-Marathon mendorong ribuan mahasiswa dari berbagai belahan dunia untuk merancang kendaraan dengan efisiensi energi tinggi dan zero emission. Dengan tantangan konsumsi bahan bakar yang semakin mengancam keberlanjutan hidup, Shell berkomitmen untuk menghadirkan solusi nyata melalui inovasi anak muda.

Shell Eco-Marathon Asia Pasifik & Timur Tengah 2025 menjadi panggung bagi 16 negara, 61 tim, dan ribuan mahasiswa untuk membuktikan inovasi mereka dalam pengembangan teknologi berkelanjutan. Berbagai tim mahasiswa dari berbagai universitas di Tanah Air turut serta dalam kompetisi ini, membuktikan bahwa Indonesia memiliki talenta yang siap bersaing di tingkat global. Salah satu tim yang terus berinovasi dalam ajang ini berasal dari kota pelajar, Yogyakarta, yaitu Tim Semar UGM. 

Bukanlah sebuah perlombaan apabila tidak ada kisah menarik. Tim Semar melalui perjuangan berbulan-bulan lamanya untuk research dan development kendaraan, dan perjuangan tersebut dipertaruhkan pada saat kompetisi. Dengan penuh ketegangan dan banyak improvisasi, tim Semar berkejaran dengan waktu untuk berhasil melalui technical inspection. Selain itu, tim Semar harus memaksimalkan waktu yang tersisa untuk dapat attempt, melaju di sirkuit Lusail. Sirkuit Lusail yang memiliki karakteristik dan medan yang unik memberikan tantangan tersendiri, namun hal itulah yang memberikan banyak pelajaran berharga bagi tim.

Dengan berbagai cerita dibaliknya, tim Semar UGM berhasil meraih penghargaan juara Dua untuk kategori Prototype Battery Electric. Pencapaian ini menunjukkan prestasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang membanggakan. Namun, tim Semar memiliki dedikasi untuk meraih hal yang lebih tinggi, mengevaluasi performa di perlombaan ini untuk pencapaian yang maksimal kedepannya.

“Lebih dari sekadar kompetisi, Shell Eco-Marathon bagi Tim Semar UGM merupakan wujud komitmen untuk mencetak generasi emas yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran akan pentingnya keberlanjutan” tutur Indira Dwijaksara perwakilan Tim Semar. Semangat inovasi dan kolaborasi, mereka terus bergerak maju, membawa nama Indonesia ke panggung dunia dan berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih hijau.  See you next year! 🚀🏁

HMDTI Bagikan Pengalaman dan Tips Lolos Publikasi Internasional

Himpunan Mahasiswa Doktor Teknik Industri (HMDTI), Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM mengadakan sharing session bertajuk ”Dari Ide Penelitian ke Publikasi Jurnal Internasional: Best Practices dan Insight”. Sharing session tersebut dilaksanakan secara daring pada Selasa (11/02) dengan mengundang 2 orang pembicara, yaitu Sri Indrawati, S.T., M.Eng. (mahasiswa Program Doktor Teknik Industri UGM, dosen Universitas Islam Indonesia) dengan paparan materi ”Dari Draft ke Publikasi: Perjalanan Menuju Jurnal Internasional Bereputasi” dan Dr. Ir. Siti Afiani Musyarofah, STP., M.T. (Policy Analyst – Kementerian Perindustrian dan penulis tiga artikel pada Jurnal Scopus) dengan paparan materi ”Menghadapi Peer-Review dan Revisi Jurnal Scopus: Insight dan Solusi”. Oleh karena pentingnya topik yang diangkat dalam sharing session ini, maka pendaftaran terbuka untuk mahasiswa maupun calon mahasiswa doktoral dari seluruh instansi, dengan jumlah peserta berdasar kehadiran daring adalah 108 orang.

Menyampaikan sambutan, Ketua Program Studi (Kaprodi) Doktor Teknik Industri UGM, Prof. Ir. Nur Aini Masruroh, ST., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyatakan bahwa publikasi menjadi bottleneck dari proses studi Prodi Doktoral di semua perguruan tinggi. ”Publikasi ini seringkali menjadi hambatan karena bergantung pada pihak ketiga, jadi nanti akan dibagikan apa saja yang dapat menentukan lolosnya sebuah publikasi ke dalam jurnal,” tuturnya.

Sri Indrawati dalam sharing session ini membagikan pengalaman dan strateginya dalam menyusun publikasi sampai pada penerbitan di jurnal yang bereputasi. ”Proses dari saya mendesain penelitian sampai ke submission cukup panjang, hampir satu tahun, dengan proses paling lama adalah proses submission sampai publikasi. Di sini, saya cukup beruntung karena saya submisi pada bulan Juni dan published pada bulan Desember, sekitar 6 bulan,” papar Sri. Kunci dari penerbitan publikasi penelitian, menurut Sri, terletak pada desain penelitian yang baik dan jelas, serta bisa menjadi solusi dari masalah yang ingin diselesaikan. ”Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah waktu proses submisi sampai publikasi karena berkaitan dengan pihak ketiga. Meski begitu, setiap jurnal bisa berbeda-beda (waktu sampai publikasi),” tambahnya. Secara garis besar, unsur-unsur desain penelitian yang diterapkan Sri dalam penelitiannya adalah variabel, jenis data, sampel dan populasi, kriteria responden, ethical consideration, dan resources. Selain menyusun desain penelitian, Sri menyarankan untuk menentukan jurnal apa yang akan dituju sebagai media publikasi. ”Keputusan jurnal yang dituju cukup krusial karena akan berpengaruh pada tulisan kita,” paparnya.  Mengetahui standar jurnal yang dituju, menurut Sri, dapat memperbesar kemungkinan tulisan diterima untuk diterbitkan oleh jurnal. ”Agar tidak terbatas dalam melakukan penelitian, sebelum penelitian selesai, kita bisa sekaligus mencari jurnal yang dituju,” pungkas Sri.

Siti Afiani Musyarofah menyampaikan bahwa ketika paper sudah sampai tahap editor, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. ”Decision dari editor bisa jadi tulisan kita langsung diteruskan ke reviewer, atau dikirim kembali kepada kita sebagai author untuk melengkapi yang kurang, atau langsung reject. Jangan khawatir jika langsung reject, karena positifnya adalah kita tahu lebih cepat untuk kemudian beralih ke jurnal lain,” papar Siti. Ketika tulisan ada di reviewer, menurut paparan Siti, decision juga bisa beragam, antara lain revisi, reject, dan accepted. ”Ketika tulisan kita mendapat reject dari reviewer, keuntungannya adalah kita bisa memperoleh banyak masukan untuk memperbaiki tulisan kita yang akan kita kirim ke jurnal lain,” tuturnya. Mengenai hal-hal yang perlu dilakukan penulis sebelum dan saat submisi, Siti menjabarkan beberapa hal. ”Author perlu memastikan bahwa jurnal yang dipilih sudah sesuai, kemudian perlu memperhatikan Daftar Pustaka, dan saat submisi, jangan takut untuk submit di Q1-Q2 pada Best Publisher dan siapkan file pendukung,” tambah Siti. Selain menjabarkan apa yang perlu dilakukan penulis sebelum dan saat submisi, Siti juga memberikan saran-saran untuk menghadapi perbaikan-perbaikan yang diberikan editor dan apa saja jenis-jenis tanggapan yang bisa dilakukan penulis dalam menyikapi hasil review dari reviewer. ”Dalam menghadapi reviewer, kita bisa menyetujui masukan dari reviewer, namun bisa juga kita melakukan sanggahan, selama disampaikan dengan baik dan dengan argumen yang kuat,” pungkasnya.

Paparan dari 2 narasumber ditanggapi dengan membuka sesi tanya jawab untuk peserta, dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan banyak terkait pada proses submisi.  

Kontributor: Sani Wicaksono, S.E., M.M.
Penyusun: Gusti Purbo Darpitojati, S.I.Kom.

DTMI Gandeng Alumni dalam Riset Pengembangan Kereta Api Hybrid

Sebagai bentuk dedikasi dalam melakukan riset dan inovasi secara terus menerus, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM mengadakan Curah Gagasan dan Diskusi Kereta Api Barang Tipe Hybrid bersama dengan alumni Teknik Mesin (TM) UGM Angkatan 1967. Curah Gagasan yang diadakan pada Rabu (05/02) di Ruang Sidang A1 ini dihadiri oleh 3 orang alumni TM UGM angkatan 1967 yang ahli dalam bidang transportasi, yaitu Ir. Iwan Kusmarwanto, Ph.D. (Presiden Direktur PT Mataram Paint, Ahli Aerodinamika), Ir. Bambang Priambodo, MSME, IPM (Tenaga Ahli Energi dan Transportasi PT EMKA Rekayasa Energi), dan Ir. Dwi Rahardjo Sigit (Purna Tugas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kemenhub, Ahli Transportasi Udara) serta 6 orang dosen DTMI UGM, yaitu Ir. Fauzun, Ph.D., Ir. Indro Pranoto, Ph.D., Prof. Heru Santoso Budi Rochardjo, Dr.Eng. Ir. R. Rachmat A. Sriwijaya, S.T., M.T., D.Eng., IPM., ASEAN Eng., Dr. Hifni Mukhtar Ariyadi, dan Ardi Wiranata, Ph.D..

Iwan Kusmarwanto menyatakan bahwa 3 alumni yang diundang dalam Curah Gagasan ini merupakan tim yang sudah lama saling mengenal dan saling bekerja sama sehingga bisa selalu kompak. ”Kami selalu siap membantu bila UGM akan mengembangkan transportasi kereta api yang selalu diminati oleh orang banyak,” tuturnya. Sebagai ahli aerodinamika, Iwan mendorong perguruan tinggi untuk bisa selalu mengembangkan transportasi kereta api yang semakin maju teknologinya.

Paparan mengenai Kereta Api Barang Tipe Hybrid disampaikan oleh Bambang Priambodo. Berbekal pengalamannya yang luas dalam bidang kereta api maupun kereta listrik, Bambang membagikan informasi-informasi yang bermanfaat untuk pengembangan kereta hybrid. ”Dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional tahun 2020, oleh karena peningkatan jumlah sarana perkeretaapian juga meningkatkan kebutuhan bahan bakar yang berdampak pada peningkatan emisi gas buang, maka perlu diversifikasi penggunaan energi murah dan ramah lingkungan seperti gas atau listrik,” paparnya. Bambang menuturkan bahwa pada 2030, jalur utama kereta api antar kota akan menggunakan energi listrik dengan proporsi 90%. Bambang menjabarkan bahwa di Jerman sudah banyak menggunakan jaringan kereta listrik yang mengandalkan Listrik Aliran Atas (LAA). ”Kendala pembangunan LAA di Indonesia adalah minimnya minat penanam saham karena regulasi PLN yang tidak memperbolehkan penjualan daya listrik ke kereta api,” tuturnya. Selain minimnya penanam saham, kereta listrik dengan jaringan LAA juga memakan waktu lama dalam pembangunannya dan biaya yang besar untuk perawatannya. Oleh karena itu, Bambang memaparkan solusi untuk mengembangkan kereta dengan jalur tanpa LAA. ”Kereta tersebut nantinya akan beroperasi menggunakan hybrid diesel dan baterai, dengan lokomotif yang yang dirancang menggabungkan sistem penggerak mekanis dan cadangan daya listrik gerbong baterai,” tambah Bambang. Selain memaparkan rancangan tenaga kereta hybrid, dipaparkan juga penggunaan rem aerodinamis untuk kereta yang dapat menjaga rel dan roda dari aus dan kerusakan. ”Dengan berkembangnya kereta hybrid, nantinya bisa meningkatkan kegiatan sosial ekonomi masyarakat di sekitar stasiun,” pungkas Bambang.

Ir. Fauzun Ph.D. mengucapkan terima kasih atas perkenanan alumni TM UGM 1967 untuk hadir dan berdiskusi bersama. ”Semoga hasil diskusi ini dapat membawa manfaat untuk transportasi perkeretaapian Indonesia,” tutupnya.

”Pulang Kampus”, Airlangga Hartarto Tumbuhkan Motivasi Hilirisasi DTMI UGM

Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM menerima sebuah kunjungan istimewa dari salah satu alumninya, yaitu Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto, MBA, MMT (Teknik Mesin 1981) yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia periode 2024-2029 sekaligus sebagai salah satu anggota Dewan Penasihat DTMI UGM. Dalam kunjungan yang berlangsung pada Selasa (04/02) ini, Menko Airlangga didampingi oleh Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, MA.. Menko Airlangga dan Wamen Faisol menuju DTMI dengan mengendarai mobil listrik GATe dari Gedung Prof. Roosseno Soerjohadikoesomo – Smart Green Learning Center (SGLC) FT UGM sehabis mengisi gelar wicara. Uniknya, Menko Airlangga mengendarai mobil GATe secara langsung ketika menuju DTMI.

Kunjungan Menko Airlangga dan Wamen Faisol ke DTMI diawali dengan menyambangi showcase produk-produk hasil inovasi untuk hilirisasi dari para dosen DTMI yang dipamerkan di lobi DTMI. Produk inovasi yang dipamerkan antara lain Ventilator ICU karya Dr. Eng. Adhika Widyaparaga, Ring Jantung karya Prof. Alva Edy Tontowi, Garam Spa karya Ir. Nur Mayke Eka Normasari, Ph.D. dan Ir. Subagyo, Ph.D., Kaki Palsu dan Implan karya Dr. Ir. Budi Arifvianto, Mesin Injeksi Sampah Plastik Rumah Tangga karya tim Prof. Kusmono, Prof. Gesang Nugroho, Ir. M. Waziz Wildan, Ph.D. dengan mahasiswa, Haltech 3D Printer karya Prof. Herianto, Mesin Batik Butimo karya Ir. Andi Sudiarso, Ph.D., Pesawat Tanpa Awak Palapa S-1 karya Prof. Gesang Nugroho, dan Kereta Cepat Merah Putih yang merupakan proyek konsinyering beberapa perguruan tinggi di Indonesia bekerja sama dengan PT INKA, PT KAI, BRIN, PT WIKA, DJKA, dan PT Len Railway System dengan Ketua Tim Ir. Fauzun, Ph.D.. Menko Airlangga dan Wamen Faisol berbincang dan berdiskusi singkat dengan para dosen yang merancang produk-produk inovasi tersebut.

Selepas mengunjungi showcase, Tim Menko beranjak ke Ruang Sidang A1 untuk memberikan pemaparan. Dalam pemaparan yang dihadiri oleh dosen-dosen DTMI dan departemen lain, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, Airlangga memaparkan bahwa penting bagi Indonesia untuk mulai memasuki hilirisasi semi-conductor. “Hilirisasi semi-conductor akan membantu menempatkan posisi Indonesia terutama dalam update teknologi elektronik,” tuturnya. Selain semi-conductor, Airlangga juga menekankan pentingnya Indonesia untuk tidak hanya menjadi pasar Solar PV namun juga memasukki local content. Penguasaan Artificial Intelligence (AI) dan industri dengan infrastruktur 5G (machine to machine) juga ditekankan oleh Airlangga untuk dapat lebih dikembangkan dan diperluas. “Kita harus bisa beralih dari pekerjaan dengan gaji upah minimum menuju high paying-job,” tutur Airlangga. Program hilirisasi semi-conductor dan transformasi industri dengan infrastruktur 5G yang memungkinkan industri machine to machine dapat tercapai, menurut Airlangga, jika relasi antara industri dan perguruan tinggi terjalin dengan baik sehingga perguruan tinggi dan industri dapat saling memberi keuntungan. ”Tidak ada AI tanpa semi-conductor, tidak ada semi-conductor tanpa knowledge, dan tidak ada knowledge tanpa perguruan tinggi,” menjadi kutipan dari Airlangga Hartarto yang harapannya akan memperkuat semangat inovasi, kolaborasi, dan hilirisasi oleh perguruan tinggi, terutama oleh seluruh civitas akademika DTMI UGM.

Airlangga Hartarto Tekankan Pentingnya Hilirisasi dalam Gelar Wicara “Grafika Talkshow”

Fakultas Teknik (FT) UGM mengadakan gelar wicara “Grafika Talkshow” bertajuk ”Peran dan Peluang Kampus dalam Agenda Hilirisasi dan Mewujudkan Ketahanan Energi” pada Selasa (04/02), dengan mengundang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto, MBA, MMT dan Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, MA. sebagai narasumber, bertempat di Auditorium Lantai 3 Gedung Prof. Roosseno Soerjohadikoesoemo – Smart Green Learning Center (SGLC) FT UGM. Grafika Talkshow ini juga merupakan sebuah momen ”pulang kampung” bagi Airlangga yang merupakan alumni Teknik Mesin UGM angkatan 1981.

Dalam paparan yang disampaikan, Airlangga menyatakan bahwa Indonesia sudah dikenal unggul sumber dayanya sejak abad ke-16 hingga menarik bangsa-bangsa lain untuk datang dan bekerja sama dengan Indonesia. “Kita ini negara yang blessed, Nikel nomor 1 dunia, Timah nomor 2, Tembaga 11%, Bauksit 4%, kemudian Emas Perak 7%, Batu bara nomor 7 di dunia. Banyak lagi yang kita bisa nomor satu dan hampir seluruh critical mineral kita punya, kita punya Mangan, Kobalt, Nikel, dan Pasir Silika,” tutur Airlangga. Oleh karena kekayaan sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia, Airlangga mengimbau bahwa hilirisasi sumber daya memainkan peran penting dalam mengolah sumber daya tersebut, dengan menekankan peran hilirisasi salah satunya dimiliki oleh perguruan tinggi. ”Perguruan tinggi memiliki peran dalam penyesuaian kurikulum dengan teknologi terkini yang bisa digunakan dalam hilirisasi, beasiswa untuk mahasiswa bisa menimba ilmu, bekerja sama dengan stakeholder terkait, dan pengembangan industri berbasis digital,” paparnya. Relasi dan kerja sama dengan negara-negara lain juga ditekankan Airlangga dalam konteksnya dengan hilirisasi. Senada dengan itu, Faisol Riza menyampaikan bahwa hilirisasi dapat memungkinkan Indonesia untuk memproduksi produk-produk yang lebih baik. ”Hilirisasi memiliki dua pesan, pertama, hilirisasi bukan sekadar tentang memproduksi barang setengah jadi lalu menjualnya, tetapi merupakan proses mengumpulkan dan memupuk kekayaan negeri ini. Kedua, dengan hilirisasi yang kuat dan konsisten, Indonesia bisa menjadi ”New China” di kawasan Asia Tenggara dan memerankan peranan penting dalam perekonomiannya,” ujarnya.

Turut hadir, Prof. Selo selaku Dekan FT UGM menyampaikan bahwa dengan kebijakan yang ditentukan oleh pemerintah mengenai pengolahan sumber daya akan menjadi acuan bagi FT UGM untuk semakin berkembang dalam hal riset dan hilirisasi. ”Selama ini dengan sumber daya yang melimpah, kita ekspor dalam bentuk mentah dan pengolahannya bergantung pada asing, sehingga kita perlu untuk memikirkan pengolahan secara mandiri,” tutur Selo. Senada dengan Prof. Selo, Manajer Engineering Research and Innovation Center (ERIC) yang juga merupakan moderator gelar wicara, Prof. Tumiran, menyatakan bahwa tema gelar wicara kali ini penting untuk dicermati dengan adanya wacana pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. ”Hilirisasi merupakan solusi untuk memberi nilai tambah kepada sumber daya yang kita miliki secara optimal, dan di dalamnya juga bisa dilakukan transfer knowledge dan skill antara perguruan tinggi dan industri untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain,” tutur Tumiran.

Peran riset perguruan tinggi dalam hilirisasi juga turut memberikan dorongan bagi seluruh dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset secara berlanjut dan pada akhirnya menelurkan berbagai inovasi yang dapat digunakan dalam jalannya hilirisasi. ”Tidak ada negara kuat tanpa inovasi,” pungkas Airlangga menutup paparannya. Selepas dari gelar wicara, Menko Airlangga dan Wamen Faisol beranjak ke Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM untuk melanjutkan agenda kunjungan.

Aktif Berpartisipasi dalam HPTT Ke-79, DTMI UGM ”Panen” Prestasi

Dalam perhelatan lomba-lomba dalam rangka Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT) ke-79 yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik (FT) UGM, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM meraih juara untuk beberapa cabang lomba yang diadakan, baik dari bidang olahraga maupun kesenian. Dari bidang olahraga, DTMI meraih juara 1 untuk cabang olahraga bola voli dan juara 3 untuk cabang olahraga futsal. Untuk bidang kesenian, DTMI meraih juara 3 untuk lomba vocal group wanita. Pengumuman juara-juara dan pemberian hadiah dilaksanakan dalam perhelatan puncak HPTT ke-79 pada Minggu (02/02),  bertempat di Selasar Gedung Prof. Roosseno Soerjohadikoesomo – Smart Green Learning Center (SGLC) FT UGM.

DTMI meraih juara 1 dalam pertandingan bola voli setelah menundukkan tim dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) di babak final. Andi Sumaryanto, salah satu anggota tim bola voli DTMI menyatakan bahwa pertandingan di final terasa lebih ringan apabila dibandingkan dengan pertandingan semifinal. ”Semifinal terasa lebih berat saat melawan tim dari Kantor Pusat Fakultas Teknik (KPFT), sehingga saat di final kami merasa lebih mudah dan bisa memenangkan pertandingan,” tutur Andi. Tim bola voli DTMI UGM memperoleh hadiah uang dengan nominal Rp1.200.000,00.

Perolehan juara 3 lomba futsal diraih dengan jerih payah yang tidak mudah. Seperti telah diberitakan sebelumnya, tim futsal DTMI bertanding dengan sedikit handicap (kondisi yang menyebabkan usaha meraih sesuatu menjadi lebih sulit – red.), yaitu cederanya salah satu anggota tim, Eko Suwandoko. Meski demikian, tim futsal DTMI tetap dapat meraih capaian juara. Untuk pertandingan futsal, perolehan hadiah juara 3 adalah Rp500.000,00.

Setelah meraih 2 juara di bidang olahraga, DTMI kembali mencetak prestasi dalam bidang kesenian. Tim vocal group wanita DTMI yang beranggotakan 2 dosen, 2 anggota Dharma Wanita, 4 tenaga kependidikan, dan 5 mahasiswa berhasil meraih juara 3. Berdasarkan info dari salah satu anggota tim vocal group wanita DTMI, Puji Prima Yovita Aliuch, ada 7 tim dari masing-masing departemen dan KPFT yang mengirim perwakilan tim. ”Dari 8 departemen, hanya tim DTETI dan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) yang tidak mengirimkan perwakilan,” tutur Puji. Tim DTMI menampilkan 4 lagu dalam lomba vocal group tersebut, yaitu Sorak-sorak Bergembira yang merupakan lagu wajib, dan 3 lagu daerah, yaitu Sipatokaan, Gundul-gundul Pacul, dan Yamko Rambe Yamko yang dikemas dalam bentuk medley. Guna memeriahkan penampilan, tim DTMI mengenakan kostum tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Tim vocal group wanita DTMI memperoleh hadiah uang sejumlah Rp1.000.000,00.

Pencapaian prestasi ini merupakan tanda bahwa civitas akademika DTMI UGM memiliki banyak bakat dalam bidang olahraga dan kesenian. Semoga dengan tercapainya prestasi HPTT ke-79 ini, seluruh civitas akademika DTMI UGM akan semakin bersemangat dalam mengembangkan bakatnya yang juga didukung oleh kampus.