Susilowati Kembangkan Mathematical Model untuk Optimalkan Penjadwalan Tim Kerja

Dalam Ujian Tesis yang dilaksanakan pada Jumat (08/08) di Ruang Sidang A-3, mahasiswa Program Magister Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM memaparkan isi tesisnya yang berjudul Pengembangan Model Matematis untuk Training Center Timetabling Problem: Studi Kasus di Balai Diklat Industri Yogyakarta. Penelitian ini menjawab tantangan penjadwalan tim kerja yang selama ini masih dilakukan secara manual menggunakan spreadsheet, sehingga memerlukan waktu sekitar lima hari kerja dan kerap menimbulkan bentrok jadwal serta ketidakseimbangan beban kerja antar personil.

Selama ini, proses penyusunan jadwal tim kerja dilakukan menggunakan spreadsheet konvensional. Proses ini memakan waktu hingga ±5 hari kerja dan sering kali menghasilkan benturan jadwal, ketidakseimbangan beban kerja antar personil, serta waktu persiapan yang singkat. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas pelatihan, mengurangi kepuasan pihak terkait, dan berdampak pada kinerja tim secara keseluruhan.

Penelitian ini memanfaatkan exact optimization method untuk menghasilkan jadwal yang lebih adil dan efisien. Model yang dikembangkan tidak hanya mampu mengurangi konflik penugasan, tetapi juga memastikan distribusi beban kerja yang lebih merata. Perbandingan antara hasil optimasi dan metode penjadwalan konvensional menunjukkan bahwa model baru ini secara signifikan lebih unggul dalam hal pemerataan tugas, pemanfaatan waktu, dan kesiapan personil dalam melaksanakan pelatihan.

Lebih jauh, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi penerapan sistem penjadwalan berbasis mathematical model secara luas di lembaga-lembaga pelatihan industri lainnya. Implementasi teknologi ini diharapkan mampu mempercepat proses penyusunan jadwal, meningkatkan kualitas manajemen sumber daya manusia, serta mendukung pencapaian target pelatihan dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi.

“Penerapan mathematical model dalam sistem penjadwalan ini dapat menjadi solusi yang berkelanjutan bagi lembaga pelatihan, khususnya dalam menjaga kualitas layanan dan efisiensi kerja,” ujar Susilowati. Ia juga menegaskan bahwa sistem ini fleksibel untuk dikembangkan lebih lanjut sesuai kebutuhan institusi pelatihan yang berbeda.

Kontributor: Maryanti, A.Md.
Penyusun: Gusti Purbo Darpitojati, S.I.Kom.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses