Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, di tengah arus transformasi digital global, sektor IKM di Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menerapkan konsep Industri 4.0. Menjawab persoalan tersebut, Kurniawanti, mahasiswa Program Doktor Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM, mengusulkan model konseptual baru melalui penelitian berjudul “Pengembangan Framework Implementasi Industri 4.0 untuk Industri Kecil dan Menengah.”
Penelitian Kurniawanti tersebut dipaparkan dalam Seminar Hasil 1 yang dilaksanakan pada Kamis (16/10) dengan pembimbing Ir. Muhammad Kusumawan Herliansyah, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. sebagai promotor, serta Ir. Andi Sudiarso, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng. sebagai ko-promotor. Seminar juga dihadiri oleh Prof. Ir. Nur Aini Masruroh, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. selaku Ketua Program Studi.
Dalam paparannya, Kurniawanti menjelaskan bahwa IKM, terutama di sektor kerajinan, menghadapi hambatan dalam adopsi digital transformation seperti keterbatasan modal, rendahnya literasi digital, infrastruktur yang belum merata, serta kekhawatiran akan hilangnya nilai budaya dan keaslian produk akibat penggunaan teknologi. Penelitian sebelumnya juga cenderung hanya mengidentifikasi Critical Success Factors (CSF) tanpa menganalisis hubungan sebab-akibat atau prioritas antar faktor, sehingga belum menghasilkan model transformasi yang terstruktur dan kontekstual.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Kurniawanti mengembangkan model dual-track transformation yang menggabungkan tiga teori utama: Dynamic Capabilities Theory (kemampuan organisasi dalam melakukan sensing, seizing, dan reconfiguring), Institutional Theory (pengaruh tekanan koersif, normatif, dan mimetik dalam mendorong kolaborasi adaptif), serta Shared Value Theory (penciptaan nilai ekonomi dan sosial secara simultan melalui digitalisasi inklusif).
Secara metodologis, penelitian ini mengombinasikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Metode DEMATEL–ISM–MICMAC digunakan untuk memetakan hubungan sebab-akibat dan prioritas antar faktor keberhasilan, menghasilkan framework standalone yang sistemik dan berbasis konteks. Pendekatan Focus Group Discussion (FGD) kemudian digunakan untuk menggali dinamika kolaborasi antar pemangku kepentingan—pemerintah, akademisi, asosiasi, pelaku industri, dan komunitas perajin—dalam memperkuat legitimasi, berbagi sumber daya, serta menciptakan nilai bersama dalam ekosistem kerajinan.
Hasil penelitian ini melahirkan dua framework konseptual yang saling melengkapi:
-
Standalone Transformation Framework – menjelaskan hubungan antar faktor internal yang memengaruhi keberhasilan adopsi Industri 4.0 pada IKM.
-
Collaborative Transformation Framework – menggambarkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan penciptaan shared value sebagai strategi percepatan digitalisasi IKM di negara berkembang.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi digital IKM tidak dapat dilakukan hanya secara individual, tetapi memerlukan kolaborasi lintas sektor agar inklusif, berkelanjutan, dan tetap menghargai nilai-nilai budaya lokal,” ujar Kurniawanti.
Sementara itu, Dr. Muhammad Kusumawan Herliansyah selaku promotor menyampaikan bahwa riset ini memberikan kontribusi strategis dalam penguatan ekosistem digital nasional. “Pendekatan dual-track transformation membuka jalan bagi kebijakan yang lebih adaptif dan realistis untuk mempercepat adopsi Industri 4.0 di sektor IKM Indonesia,” jelasnya.
Kontributor: Sani Wicaksono, S.E., M.M.
Penyusun: Gusti Purbo Darpitojati, S.I.Kom.
