Dalam membina relasi antara institusi kampus dengan alumni, salah satu usaha yang telah dan sering dilakukan Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM adalah dengan menghadirkan alumni sukses untuk menjadi pembicara dalam sharing session, diskusi, maupun kuliah umum. Salah satunya seperti yang dilaksanakan pada Jumat (13/02) di Ruang Sidang A1 DTMI, melalui program Alumni Mengajar dengan topik ”Beyond Graduation: Designing Your Career After University”. Pada program tersebut, DTMI mengundang Berthin Saragih, alumni Teknik Mesin 2007 untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta memberi saran kepada mahasiswa mengenai penentuan karir pasca lulus kuliah.
Membuka acara Alumni Mengajar, Ketua DTMI, Ir. Muslim Mahardika, Ph.D. mengucapkan selamat datang kepada narasumber. ”Welcome home. Melalui acara ini, semoga Mas Berthin bisa banyak memberi masukan kepada mahasiswa dan info-info yang perlu diberikan,” tuturnya. Dr. Muslim juga menyatakan bahwa program ini adalah kesempatan yang baik untuk memperkuat jaringan antar alumni serta akan dapat memberikan insight yang baik bagi mahasiswa, sehingga peserta yang hadir didorong untuk banyak mengajukan pertanyaan. Senada dengan itu, Berthin juga mengharapkan partisipasi aktif dari peserta. ”Saya harap pertemuan ini akan lebih conversational,” jelasnya.
Saat ini berposisi sebagai Recruiting Director untuk Boston Consulting Group (BCG) Indonesia, Berthin merupakan lulusan tercepat Teknik Mesin 2007 pada kelulusan tahun 2011. Sebelum berkarir di perusahaan konsultan, rekam jejaknya dimulai dari perusahaan minyak dan gas (migas) Halliburton, dan kemudian dilanjutkan dengan Schlumberger dan Sinarmas. Selepas Sinarmas, Berthin memperoleh beasiswa LPDP untuk menempuh pendidikan magister di University of Virginia selama 2 tahun, dan kemudian mengikuti internship di perusahaan ekuitas swasta sebelum masuk ke BCG Indonesia. Oleh karena pengalamannya di bidang yang beragam, Berthin memiliki banyak sekali wawasan mengenai dunia kerja. ”Murah dan mudahnya akses pendidikan membuat banyaknya orang dapat menempuh pendidikan layak, sehingga IPK tidak lagi menjadi faktor penentu karir dibanding dengan pengalaman yang memberikan impact,” tuturnya. Sebagai perekrut, Berthin menyatakan bahwa ia akan memperlakukan lulusan strata apapun dengan setara dan mendorong mahasiswa untuk membangun kapabilitas diri melalui program-program magang dan proyek untuk memberikan nilai tambah. ”Karir akan menjadi tidak selalu linear dengan studi, sehingga kemampuan adaptasi menjadi penting dan pergerakan yang strategis akan membantu perkembangan kalian,” tegasnya.
Perkembangan teknologi dan Akal Imitasi (AI) membuat dunia kerja juga mengalami perubahan. ”Perkembangan AI menuntut literasi teknologi yang tinggi, dan ke depannya akan banyak AI engineer yang berasal dari berbagai disiplin ilmu,” tuturnya.
Dalam penentuan karir, Berthin memberikan beberapa wawasan kepada mahasiswa, antara lain menegaskan bahwa pekerjaan pertama tidak menentukan seluruh jalan hidup, sehingga ia mendorong mahasiswa untuk melakukan perhitungan akurat ketika akan berpindah karir, serta menekankan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan akan terasa tidak nyaman. ”Keep pushing on that career,” tutur Berthin memberikan semangat kepada para juniornya.

