Alumni Mengajar DTMI UGM: Stefanus Riyan Pramudito Bahas Flexible Power Plant kepada Mahasiswa Teknik Mesin

Guna membangun dan membina relasi antara Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM dengan alumni, serta memberikan tambahan pengetahuan praktis industri kepada para mahasiswa, departemen memiliki sebuah program bertajuk ”Alumni Mengajar”. Dalam program Alumni Mengajar, DTMI mengundang alumni-alumni yang berkarir di industri untuk ke kampus dan membagikan ilmu yang mereka peroleh di dunia kerja kepada para mahasiswa. Salah satu alumni yang diundang adalah Ir. Stefanus Riyan Pramudito, S.T., M.Sc., alumni Teknik Mesin angkatan 2010 yang saat ini berkarir sebagai Renewable Energy Engineer di PT PLN Enjiniring. Riyan akan mengisi 2 (dua) kali Alumni Mengajar, yaitu sebelum dan setelah Ujian Tengah Semester (UTS), sebagai rangkaian Program ”Dosen Praktisi” untuk mata kuliah S1 Teknik Mesin yaitu Mesin Konversi Energi yang diampu oleh Dr. Akmal Irfan Majid dan Dr. Arif Widyatama.

Dalam Alumni Mengajar yang diadakan pada Kamis (12/03) ini, Riyan membagikan informasi mengenai Flexible Power Plant kepada mahasiswa Teknik Mesin UGM peserta mata kuliah Mesin Konversi Energi. Dalam penjelasannya, Riyan memaparkan bahwa saat ini power plant untuk pembangkit listrik Indonesia masih menggunakan coal atau batu bara sebagai bahan pembangkitnya dan secara umum, distribusi listrik masih berjalan 1 arah, yaitu kepada konsumen. Dengan kata lain, jaringan listrik konvensional saat ini hanya mengenal 1 sumber pembangkit. ”Di rangkaian jaringan listrik masa depan, dengan adanya PV (Photovoltaic, sel surya – red.) maka rumah dan EV (Electric Vehicle – red.) juga bisa menjadi generator listrik,” paparnya.

Menyoal fenomena blackout listrik yang pernah terjadi di Indonesia maupun negara-negara lain, Riyan menegaskan bahwa flexible power plant yang memiliki pola operasi yang dapat berubah-ubah memerlukan perhatian mengenai stabilitas keamanan dan keandalan yang, saat ini, belum dapat diterapkan. Dengan adanya tanggung jawab perusahaan pembangkit listrik untuk distribusi listrik dengan arus dan voltase yang stabil, ekonomis, ramah lingkungan, dan andal, maka perlu adanya tahap-tahap dalam mengimplementasikan flexible power plant. ”Kita tidak dapat mengubah sistem yang sudah ada secara tiba-tiba. Yang bisa kita lakukan adalah melakukannya secara bertahap, terutama karena sistem di Indonesia dengan pembangkit batu bara telah beroperasi dengan sistem yang telah berjalan sejak lama,” tuturnya.

Meski masih menggunakan batu bara, Riyan menyatakan bahwa saat ini Indonesia telah mengembangkan Retrofit Coal-Fired Power Plants (CFPPs), sebuah sistem pembangkit yang diharapkan fleksibel, menghasilkan energi yang aman, dan ramah lingkungan. ”Selain upgrade komponen-komponen wajib, Retrofit CFPPs juga menambah coal dryer, flue gas desulfurization (FGD), dan selective catalytic reduction (SCR),” paparnya. Dengan adanya Retrofit CFPPs ini, diharapkan Indonesia dapat menggunakan pembangkitnya dengan tetap menjaga lingkungan.

Selain mengajar sebagai dosen praktisi, bersama Dr. Akmal Irfan Majid, diskusi terkait inisiasi pembimbingan tugas akhir bersama juga dilakukan. Ke depannya akan ada mahasiswa S1 Teknik Mesin, Aditya Karunia yang akan mengambil topik skripsi terkait ”Evaluasi Fleksibilitas Operasi PLTU Batubara 200 MW dengan Simulasi Dinamis” sebagai kerjasama antara DTMI FT UGM dan PT PLN Enjineering.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses