Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM, Fatika Permata Dewi dan Derichson Qualimva (Teknik Industri 2024) bersama Fadil Alfayat dari Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih juara 1 serta ”Best Speaker” untuk Derichson Qualimva dalam kompetisi EcoVation 2026 pada Jumat (10/07). Bertempat di PwC Office WTC 3, Jakarta Selatan, kompetisi kolaborasi PwC Indonesia dan “Do Well Do Good Future Leaders Binus Program” ini mengambil 3 juara, dengan juara 1 diraih tim UGM dan ITB, juara 2 Zhejiang University, dan Binus University di juara 3.
Mengangkat isu stigma di industri nikel Indonesia dengan tajuk ”Dirty Nickel”, tim Fatika harus mengerjakan sebuah pitch deck berisikan 15 slide berdasarkan masalah information asymmetry (masalah “lemons problem“), yaitu buyer internasional yang tidak bisa membedakan antara produsen nikel yang sudah clean secara ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan yang masih “kotor” dengan ketiadaan mekanisme sinyal nasional yang kredibel. ”Kami menghasilkan proposal PROVE-N (Proof-based Responsible & Verified Nickel) — framework governance & verifikasi ESG 3 lapis (Ground/Trace/Proof) untuk PwC Indonesia,” tutur Fatika. Solusi yang ditawarkan oleh tim UGM dan ITB secara garis besar merupakan sistem governance ESG 3 lapis untuk diaplikasikan di industri nikel Indonesia. Sistem 3 lapis tersebut dijabarkan sebagai berikut; Ground Layer mengatur standar operasional (tailings, hubungan komunitas), Trace Layer enforce melalui data (integrasi SIMBARA-ESG, PROVE Score yang terikat ke kuota produksi RKAB), dan Proof Layer yang menjadi sertifikasi resmi IRNC yang selaras standar internasional (IRMA, CBAM, Battery Passport) plus pelaporan keuangan PSPK menjelang deadline Januari 2027. ”Intinya adalah sistem ini membantu nikel Indonesia bisa “membuktikan diri bersih” lewat sistem yang sudah ada, bukan membuat instrumen baru dari nol,” tambah Fatika.
Dalam perjalanannya meraih juara, proposal PROVE-N harus melalui 3 tahapan dengan 3 case collaborator berbeda di tiap tahapannya; Preliminary dengan Mad for Makeup, Semifinal dengan Uniqlo, dan Final dengan PwC dan dinilai oleh 3 juri dari PwC; Miranti Nastiti (Manager of Sustainability), Vinsensius Hansen (Manager of Sustainability), dan Stella Farronikka (Senior Manager of Sustainability). Fatika menyebutkan bahwa selama proses pengerjaan case, timnya memerlukan konsistensi yang cukup panjang karena case di tiap tahapnya berbeda dan tidak berkesinambungan, sehingga proses brainstorming dan eksekusi dilakukan sebanyak 3 kali. ”Hal ini berbeda dengan lomba dengan 1 case collaborator yang pada tahap selanjutnya hanya perlu mengembangkan ide di tahap sebelumnya,” jelasnya.
Menjalani proses sebagai partisipan dan, pada akhirnya, juara di kompetisi ini, Fatika dan tim selalu berpegang pada prinsip bahwa cara berpikir yang lebih matang dalam menghadapi tekanan, pengalaman bekerja sama dalam tim, serta keberanian untuk mencoba hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya lebih berharga daripada sekadar memperoleh penghargaan juara. ”Bagi kami, pertumbuhan dari proses tersebut jauh lebih berarti dibandingkan sekadar hasil akhir kompetisi. Everything is a win when the goal is experience,” pungkasnya.
Kontributor: Fatika Permata Dewi (Teknik Industri 2024)
