Mahasiswa Program Magister Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM, Nadiah Khairunnisa, berhasil mengembangkan pendekatan inovatif dalam pengendalian persediaan produk farmasi dengan mempertimbangkan umur simpan (shelf life) sebagai faktor utama. Penelitian ini dituangkan dalam tesis berjudul “Analisis Pengendalian Persediaan Produk Farmasi Multi-Item dengan Mempertimbangkan Umur Simpan Produk” yang mengambil studi kasus di UPT POAK Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.
Penelitian ini berangkat dari permasalahan nyata yang dihadapi UPT POAK, yakni tingginya nilai persediaan obat, rendahnya Inventory Turn Over (ITO) yang berada jauh di bawah standar ideal 8–12 kali per tahun, serta kerugian akibat obat kedaluwarsa yang pada tahun 2024 mencapai lebih dari Rp27 juta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian persediaan yang diterapkan sebelumnya belum sepenuhnya optimal karena belum mempertimbangkan variasi karakteristik permintaan dan umur simpan setiap item obat secara kuantitatif.
Melalui penerapan metode Heuristic (R,nQ)–Shelf Life, Nadiah mengintegrasikan pendekatan heuristik pengendalian persediaan dengan batasan umur simpan produk. Metode ini diawali dengan pengelompokan item obat menggunakan klasifikasi ABC berbasis indeks prioritas, kemudian dilanjutkan dengan perhitungan kuantitas pemesanan optimal, titik pemesanan kembali, frekuensi pemesanan, serta tingkat layanan. Selain itu, dilakukan iterasi untuk memastikan bahwa seluruh persediaan dapat habis sebelum melewati masa kedaluwarsa, serta disusun strategi penggabungan pemesanan berdasarkan pemasok dan waktu siklus guna meningkatkan efisiensi pengadaan.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kinerja pengendalian persediaan yang signifikan. Penerapan metode Heuristic (R,nQ)–Shelf Life mampu menurunkan total biaya persediaan hingga 40,62% dibandingkan kondisi aktual. Dari 179 item obat yang dianalisis, sebanyak 38 item yang sebelumnya tidak memenuhi kriteria umur simpan berhasil diperbaiki melalui proses iterasi. Biaya simpan secara keseluruhan turun sebesar 3,13%, sementara pada kelompok item bermasalah penurunannya mencapai 42,33%. Temuan ini membuktikan bahwa integrasi aspek umur simpan dalam pengendalian persediaan tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga menekan risiko pemborosan obat dan memperbaiki kualitas layanan kesehatan publik.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan praktis bagi instansi kesehatan dalam mengelola persediaan obat secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Kontributor: Maryanti, A.Md.
Penyusun: Gusti Purbo Darpitojati, S.I.Kom.
Dalam paparannya, Frieda menjelaskan bahwa baterai bekas kendaraan listrik mengandung material bernilai tinggi namun juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jika tidak dikelola secara tepat.
